Sekolah Antigadget

By on Oktober 31, 2019

Oleh: Haidar Bagir | Ketua Yayasan Pendidikan Lazuardi

Saya terlibat dalam pendidikan tidak kurang dari 26 tahun, mulai tingkat pra-TK hingga SMA. Baik mengelola sekolah yang biasa disebut sekolah unggulan, atau SPK (satuan pendidikan kerja sama) yang menerapkan sistem Eropa, maupun sejenis sekolah internasional yang menerapkan sistem lain.

Semua sistem itu sudah dipakai di banyak negara. Selain itu, saya juga sudah 20 tahunan terlibat dalam pendidikan anak-anak duafa. Mendirikan dan mengembangkan sekolah-sekolah gratis, formal ataupun informal. Yayasan yang saya dirikan telah melatih tak kurang dari 30.000 guru, khususnya guru dari sekolah-sekolah swasta dan negeri yang mewakili puluhan ribu sekolah di negeri kita.

Saya juga masih memimpin—sudah hampir sepuluh tahun—transformasi perusahaan yang saya dirikan, dari perusahaan pernerbitan berbasis kertas menjadi penyedia konten dan produk digital.

Menolak Gadget

Dengan menyampaikan itu semua, saya tak hendak mengatakan bahwa apa yang akan saya sampaikan pasti benar. Saya cuma ingin meyakinkan pembaca bahwa saya tidak sedang bicara ngawur. Ya, jaringan sekolah kami menolak penggunaan gadget dalam proses pembelajaran. Aneh? Tidak juga.

Karena kami tidak sendirian dalam mengambil sikap ini. Kami bahkan sama sekali bukan yang pertama. Sudah sejak lima tahun lalu, sekolah yang sangat populer di kalangan petinggi perusahaan teknologi informasi (TI) di Silicon Valley, Amerika Serikat, mencanangkan ini. Namanya Waldorf School.

Kebetulan sejak dua tahun lalu kami memperkenalkan Waldorf School di jaringan sekolah kami. Waldorf School, yang diinisiasi Joseph Steiner dan disponsori keluarga Waldorf—antara lain memiliki Waldorf Astoria Hotel—belakangan bukan hanya populer di Finlandia, melainkan mulai menjamur juga di China.

Sejalan dengan sikap para pemilik perusahaan bebasis TI, termasuk Bill Gates, Steve Job, dan Mark Zuckerberg, sekolah Waldorf melarang penggunaan gadget dalam proses pembelajaran dan menggantinya dengan hands-on learning (belajar dengan melibatkan kegiatan fisik). Apa pasal?

Baik Waldorf School di Silicon Valley, sekolah-sekolah sejenis, maupun para pemilik perusahaan TI terbesar dunia itu merasa harus membatasi screen time (waktu di depan layar gadget) bagi anak-anaknya, terutama yang berusia di bawah 14 tahun. Mengingat di rumah anak-anak mereka sudah banyak terpapar gadget dan alat visual berlayar, mereka ingin anak-anak di sekolah belajar dengan kegiatan fisik yang mendorong mereka bersosialisasi dengan teman-temannya.

Mereka juga merujuk pada berbagai hasil riset yang mengungkapkan ekses-ekses penggunaan gadget pada anak-anak. Termasuk di dalamnya potensi depresi, attention deficit disorder, turunnya kualitas kesehatan akibat kurang gerak, dan gadget addiction yang bisa merampas waktu anak-anak untuk pelbagai kegiatan lain.

Salah satu buku yang membahas hal ini adalah karya Richard Freed, Wired Child: Reclaiming Childhood in a Digital Age (2015). Juga Iressistible karya Adam Alter (2017). Freed bahkan termasuk di antara ribuan psikolog yang membuat petisi tentang ini (http://screentimenetwork.org/apa).

Penelitian Lain

Tentu saja bukan tak ada yang berbeda dalam hal ini, tak sedikit juga yang didukung oleh berbagai riset. Alhasil, perihal ekses penggunaan gadget, khususnya di sekolah, belum konklusif. Sebagian penelitian malah menunjukkan adanya perbaikan hasil belajar pada siswa yang menggunakan gadget sebagai alat bantu belajar. Banyaknya screen time juga tidak serta-merta berakibat buruk. Hal ini banyak bergantung pada bahan-bahan yang diakses siswa.

Yang jelas, semua sepakat bahwa siswa harus terlebih dahulu dibekali dengan dasar-dasar keterampilan numerik dan keberaksaraan sebelum diajak masuk pada penggunaan maksimum gadget dalam kehidupannya.

Apa yang saya sampaikan di atas, betapapun kontroversi masih melingkupinya, kiranya perlu mendapat perhatian secukupnya. Apalagi jika diingat ada banyak kemungkinan bahwa dunia industri gadget ikut mengaburkan pandangan negatif ini karena besarnya taruhan bisnis mereka.

Apalagi, pembahasan saya di atas belum mencakup persoalan kapitalisme pengintaian (surveillance capitalism) yang bisa membuntuti anak-anak sejak kecil jika tak ada pembatasan penggunaan gadget secara sehat sesuai dengan tingkat usia mereka. Belum lagi persoalan keterpaparan pornografi, perundungan online (cyber bullying), dan lain-lain yang juga harus dipertimbangkan.

Masih ada suatu persoalan besar yang harus disinggung di sini. Meminjam dari Jean Baudrillard, betapapun, apa yang muncul dari layar gadget adalah simulacrum, yang banyak mereduksi kelebihan berinteraksi dengan keluhuran dan keindahan: kemanusiaan, alam, dan lingkungan sekitar.

Tanpa menutup mata terhadap manfaat simulacrum, berinteraksi dengan alam secara lansung sebetulnya merupakan wahana terbentuknya spiritualitas, sebuah hubungan saling cinta (sympathea) dengan “ibu” kita, sumber kehidupan kita. Hal ini menjadi lebih penting jika kita ingat bahwa anak-anak sekarang, dalam segala aktivitas mereka, sudah banyak terputus dari alam.

Mereka, misalnya, tak sadar bahwa dalam air kemasan yang mereka minum sesungguhnya ada semesta yang dahsyat, indah, dan baik hati dalam memastikan bahwa kita mendapatkan air bersih yang sehat. Bahwa dalam sepotong ayam goreng ada kerja keras penuh cinta dari peternak dan petani, bahwa ada kerja ekologis alam yang rumit dan penuh pesona.

Manusia tak pernah tak perlu berhubungan dengan alam. Namun, mengarahkan seluruh indera ke lingkungan sekeliling kita dan menggerakkan badan adalah bagian dari dukungan bagi kesehatan dan suksesnya proses belajar siswa.

Sumber: Harian Kompas (30/10)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *