Relokasi Kampung Pulo

By on Agustus 22, 2015

Ketua DPRD DKI: Harga Rusun Jatinegara Murah, Rugi Kalau Nggak Mau

ae80f950-c680-4b1f-bc21-4f131d36ed66

Jakarta – Ada warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, yang direlokasi mengeluhkan harga sewa rusun yang dinilainya memberatkan yakni Rp 300 ribu per bulan. Namun Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi menyebut harga tersebut terbilang murah apalagi dengan fasilitas dan kualitas rusunnya.

“Itu harga sewanya murah loh. Hitungannya hanya Rp 10 ribu per hari,” kata Prasetio di Gedung DPRD DKI, Jl Kebon Sirih, Jakpus, Jumat (21/8/2015).

Hal ini dikatakan Prasetio setelah meninjau langsung kondisi rusun Jatinegara Barat. Menurutnya, rusun tersebut layak huni dengan fasilitas lift. Bahkan Prasetio menyebut rusunawa di Jatinegara Barat lebih bagus daripada Kalibata City.

“Rugi kalau warga nggak mau tinggal di sana. Itu bahkan lebih bagus daripada Apartemen Kalibata City. Kalau dijual Rp 500 juta juga pasti banyak yang berminat,” terangnya.

Dengan kondisi rusun yang bagus, sebenarnya rusun itu bisa disamakan dengan rusunami yang kerap disewa orang Rp 5 juta per bulan. Apalagi, warga relokasi tak perlu membayar air dan listrik karena sudah termasuk dalam biaya sewa yang akan mereka bayarkan tersebut.

“Sama aja. Emangnya dulu waktu di Kampung Pulo mereka tidak bayar air? tidak bayar listrik? tidak bayar sewa rumah? Ini kan unitnya sudah bagus dan layak huni,” terangnya.

Ia mencontohkan Kalibata City saat masih berstatus rusunami, rusun itu dijual dengan harga Rp 100 juta dan langsung diborong oleh para pengusaha. Sebulan kemudian, pengusaha-pengusaha itu menjual unit rusunnya senilai Rp 250 juta dan ludes dibeli warga.

Namun, langkah ‘membeli lalu menjual’ ini tak bisa dilakukan penghuni rusun Jatinegara Barat. Sebab saat melakukan serah terima kunci, warga harus menyerahkan KTP miliknya untuk diganti dengan KTP beralamatkan rusun tersebut sehingga akan terdata dan tak bisa menjual unit sewaannya.

Jika terbukti menyewakan unitnya, maka warga tersebut langsung dikeluarkan dari unit huniannya. Langkah ini diambil untuk mengurangi aksi para makelar yang membeli unit rusun dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi.

Rusun Jatinegara Barat ini seluruhnya diperuntukkan untuk warga relokasi Kampung Pulo. Gedung berlantai 16 dengan fasilitas lift ini seluruhnya ada 520 unit. (detik news)

Warga Kampung Pulo Ceritakan Enaknya Tinggal di Rusun

Meski harus meninggalkan rumah lama di permukiman Kampung Pulo, sebagian warga tampak bersemangat pindah ke tempat tinggal barunya di Rusunawa Jatinegara Barat. Salah satunya adalah Fatimah yang merasakan perbedaan tinggal di rusun ini.

“Awalnya juga saya takut enggak betah apa gimana. Namanya tempat baru kan. Tetapi, nginep semalem, ternyata enak,” ujar Fatimah di Rusunawa Jatinegara Barat, Jumat (21/8/2015).

Sebelumnya, Fatimah bercerita terlebih dahulu mengenai kondisi rumahnya yang digusur kemarin. Tempat tinggalnya di Kampung Pulo adalah rumah kecil yang sederhana dan semipermanen.

Ukurannya juga lebih kecil daripada rusun yang dia dapat saat ini. Saat musim hujan, banjir menjadi hal mutlak terjadi di rumahnya.

“Saya mah dari kecil sudah ngerasain banjir, orang saya yang sering nyerokin air di rumah kalau banjir,” ujar Fatimah.

Saat rumahnya digusur dan dia sekeluarga diharuskan pindah ke rusun, Fatimah sempat menolak. Dia khawatir tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Terlebih lagi, dia masih tinggal bersama ibunya. Dia takut sang ibu tidak betah tinggal di rusun itu. Akan tetapi, Fatimah tidak mempunyai pilihan lain.

Membeli rumah atau mengontrak adalah hal yang belum bisa dilakukan oleh Fatimah untuk keluarganya. Akhirnya, dia pun mencoba untuk pindah ke rusun.

Kesan pertama yang dia dapat setelah masuk ke dalam rusun adalah tempatnya yang bersih. Fatimah langsung merasa nyaman dengan situasi itu. (Baca: Warga Kampung Pulo yang Pindah ke Rusunawa Jatinegara Barat Terus Bertambah)

Kamar yang tersedia juga cukup untuk dia yang hidup bersama ibu, suami, serta dua anaknya. Memang, ruang memasak yang ada di unit itu sangat terbatas.

Letaknya juga digunakan bersama-sama dengan ruang tamu dan yang lain. Akan tetapi, hal itu tidak terlalu dipermasalahkan Fatimah.

Sebab, sejak masih tinggal di Kampung Pulo, dia terbiasa membeli makanan jadi. “Enaknya juga di sini enggak ada tikus. Di tempat saya yang lama banyak tikusnya,” ujar Fatimah.

Selain itu, hal yang paling membuat Fatimah senang tinggal di rusun adalah karena sang ibu ternyata betah tinggal di sana.

Awalnya, sang ibu pernah bercerita kekhawatiran jika tinggal di rusun, seperti kehilangan tetangga dan sulit pergi ke suatu tempat karena masih belum bisa mengoperasikan lift. (Baca: Warga Kampung Pulo: Bawaannya Sudah Takut Saja Tinggal di Rusun)

Akan tetapi, setelah menginap semalam, Fatimah mengatakan ibunya merasa betah. “Kata ibu saya, ‘Enak Neng, ibu tidurnya adem.’ Kamar kan memang ada jendelanya lumayan besar ya. Kalau sore, angin yang masuk itu sepoi-sepoi banget,” ujar Fatimah.

“Ada balkon juga walau kecil kan. Bisa lihat pemandangan Jakarta dari atas sini,” kata dia. Meski demikian, dia tidak menampik ada hal-hal yang tidak mengenakan tinggal di rusun ini.

Salah satu hal tidak enak yang paling dia rasakan adalah akses naik dan turun di dalam rusun. Meski rusun memiliki lima lift, Fatimah harus menunggu lift tiba dalam waktu yang lama.

Belum lagi, saat tiba, lift dalam keadaan yang hampir selalu penuh. “Apalagi waktu masih banyak yang pindahan kaya sekarang. Kalau enggak perlu-perlu amat di kamar saja deh. Bedanya sama rumah yang dulu kan kalau mau keluar ya tinggal buka pintu saja,” ujar dia.


Sumber : Kompas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *