Ramalan Kondisi Ekonomi RI 2018 Versi LPEM UI

By on Januari 1, 2018

Jakarta-Tahun 2017 segera berlalu. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) sudah membuat proyeksi kondisi ekonomi Indonesia di 2018. Seperti apa proyeksinya?


Untuk ringkasannya, LPEM FEB UI memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 bakal mencapai 5,3%. Ini berarti lebih tinggi dari prediksi pertumbuhan ekonomi di 2017 yang sebesar 5,2%.

Dalam kajian tersebut dipaparkan, pertumbuhan ekonomi di 2018 dan 2019 akan banyak didorong oleh investasi dan ekspor, serta didukung oleh investasi asing dan pemulihan ekonomi di banyak negara maju.

Riset tersebut memuat pesan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pembangunan infrastruktur. Menurut LPEM FEB UI, meski secara teori, infrastruktur dapat mempercepat aktivitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan, namun kenyataannya belum seperti itu. 

Karena di saat alokasi anggaran infrastruktur di 2017 meningkat 177% dari anggaran 2014, pertumbuhan ekonomi di 2017 hanya meningkat sedikit. Penciptaan lapangan kerja yang disebut-sebut sebagai dampak positif yang timbul dari belanja infrastruktur dan konstruksi juga belum terlihat. 

Menurut LPEM FEB UI, rendahnya investasi sektor swasta, baik di sektor infrastruktur maupun sektor lainnya, akibat dominannya peran perusahaan milik negara, membuat pertumbuhan investasi secara keseluruhan tidak maksimal. 

“Hal ini dapat berdampak negatif pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi selama sisa pemerintahan Jokowi. Dengan kondisi saat ini, kami memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 5,2% di triwulan III dan keseluruhan tahun 2017,” demikian kajian LPEM FEB UI seperti dikutip, Senin (6/11/2017).

Kemudian, pertumbuhan ekonomi tahun depan akan didorong oleh harga komoditas ekspor utama Indonesia yang stabil dan cenderung tinggi, terutama untuk kelapa sawit dan batu bara. Namun, pertumbuhan hanya akan meningkat secara moderat pada 2018 dan 2019 akibat beberapa kondisi yang kurang menguntungkan. 

“Pertama, ekspor energi, terutama minyak, gas, dan batu bara, tidak akan meningkat signifikan akibat persaingan dari energi terbarukan yang menjadi murah lebih cepat dari perkiraan, terutama karena faktor pembatasan emisi Tiongkok. Ke depan, kami melihat peluang harga minyak dan batu bara untuk kembali ke tingkat sebelum krisis 2008 mendekati nol, bahkan jika permintaan global akan energi melonjak ke tingkat sebelum krisis. Kedua, pertumbuhan konsumsi hanya bisa naik sedikit di atas 5%. Pertumbuhan konsumsi akan terus lebih lambat dibanding komponen ekonomi sisi pengeluaran lainnya lainnya (seperti ekspor, investasi), terutama karena hal tersebut bergantung pada kepercayaan konsumen dan pertumbuhan upah riil. Tanpa perubahan besar terhadap arah kebijakan atau kondisi eksternal, kami tidak melihat pertumbuhan PDB untuk naik signifikan dalam 2 tahun ke depan,” demikian bunyi kajian tersebut.

LPEM FEB UI melihat ada perkembangan baru di 2018 dan 2019 yang mempengaruhi ekonomi domestik secara signifikan. Pertama adalah trean pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Inggris, dan mungkin Jepang. Lalu kedua, adalah China telah berhasil keluar dari perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Hal ini membuat pertumbuhan permintaan komoditas akan terus positif, meski harga komoditas akan tetap berada di bawah harga sebelum tahun 2008. Harga batu bara tidak akan mengalami penurunan seperti yang terjadi hingga 2016, namun kami ragu bahwa permintaan terhadap batu bara akan meningkat di jangka panjang, yang membatasi potensi industri pertambangan dan ekspor terkait batu bara untuk tahun 2018 dan 2019,” ujar kajian itu.

Ketiga, meningkatnya perilaku pengambilan risiko dan toleransi risiko telah membuat beberapa analis khawatir tentang kemungkinan terjadinya krisis keuangan skala global seperti 2008. 

“Meskipun benar bahwa perilaku pengambilan risiko yang berlebihan dan lengahnya regulator terlihat di beberapa sektor, terutama teknologi, kami tidak melihat adanya peningkatan risiko krisis yang signifikan, setidaknya untuk tahun 2018. Suku bunga acuan di AS dan negara-negara besar lainnya naik jauh lebih lambat dibanding dengan tahun 2005-2008, yang memungkinkan pasar untuk menyesuaikan diri dengan pengetatan kebijakan moneter secara bertahap,” papar kajian itu.

 

Sumber: detik finace

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *