MENJAGA LISAN

By on Januari 1, 2019

Jagalah lisanmu dari 8 perkara berikut :
1. Berkata bohong.
2. Ingkar janji.
3. Menjaga lisan dari ghibah.
4. Berbantah-bantahan dan saling mendebat dengan tujuan mencela pendapat orang lain, dan mendustakannya serta menganggap remeh orang yang mengatakannya.
5. Memuji kesucian diri sendiri.
6. Melaknat sesuatu, atau mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah Swt.
7. Mendoakan kebinasaan orang lain.
8. Bergurau, mengejek, dan menghina orang lain.
Kedelapan penyakit lisan di atas dapat disembuhkan dengan cara menjauhkan diri dari pergaulan untuk sementara waktu atau dengan bersikap diam dan tidak berbicara apabila tidak ada keperluan. Rasulullah Saw bersabda,”Barang siapa ingin selamat, hendaklah diam.”
(* Sumber : Maraqi al-Ubudiyyah, Syarah atas Kitab Bidayatu-l Hidayah-Imam Al Ghazali, Syaikh Nawawi al-Bantani);
Rasulullah Saw juga pernah bersabda,”Sembilan per sepuluh ibadah ada pada diam, dan sepersepuluhnya ada pada menghindari manusia.”
Sebuah kalimat hikmah berbunyi : “Sembilan puluh persen ibadah ada pada diam.”
Ketika Maryam bernadzar untuk tidak berbicara dan menahan lidahnya karena Allah, maka Allah membuat bayinya (Isa a.s) bisa berbicara, padahal bayi itu belum tahu cara berbicara. Allah membuatnya berbicara karena Maryam.
Siapa yang memelihara lidahnya di dunia karena Allah, niscaya Dia Ta’ala akan menjadikan lidahnya mengucapkan syahadat ketika ajal menjemput, atau bertemu dengan Allah.
Siapa yang tidak bisa menjaga lidahnya untuk tidak merusak nama baik kaum muslim ataupun membicarakan aib mereka, niscaya Allah Swt mencegah lidahnya ketika hendak mengucapkan syahadat sewaktu nyawanya akan melayang.
Rasulullah Saw bersabda,”Siapa yang banyak bicara, banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Siapa yang banyak dosanya, neraka adalah tempat yang pantas baginya.”(HR. Abu Na’im)
Ketika Muadz r.a bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amalan yang paling utama, beliau mengeluarkan lidahnya dan meletakkan tangannya di atasnya (isyarat agar jangan berbicara).
Demikian pula halnya Ali bin Abi Thalib r.a pernah berpesan kepada putranya, Hasan, “Jagalah lidahmu karena kebinasaan manusia berada pada kata-katanya.”
Dapat kita katakan bahwa lisan dan ucapan memiliki pengaruh luas. Lidah berbicara tentang kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, dan lain-lain. Namun jika lidah tidak terkendali dan manajemen kehidupan manusia diserahkan secara bulat kepada organ ini, maka masa depan manusia akan terancam.
Imam Ali as berkata,”Lidah bagi pemiliknya ibarat kuda liar. Orang yang bertakwa akan memperoleh manfaat dari ketakwaan ketika mampu menjaga lisannya.” Kitab suci al-Quran dalam surat Qaaf juga berbicara tentang keberadaan para pengawas bagi manusia yang merekam setiap ucapan manusia untuk menjadi saksi di hari kebangkitan.
Cara terbaik mencegah penyakit-penyakit lisan adalah berpikir sebelum berbicara dan mengeluarkan kata-kata. Imam Ali as berkata,”Lisan seorang ilmuan terletak di balik hatinya dan hati seorang dungu ada di balik lisannya.” Dalam ungkapan ini, Imam Ali as mengingatkan kita bahwa manusia berakal tidak akan angkat bicara tanpa berpikir dan bermusyawarah. Namun orang bodoh akan mengeluarkan setiap ucapan tanpa berpikir dan menimbang.
Menyangkut hal ini, para nabi dan utusan Allah memperingatkan umat manusia bahwa lisan adalah sumber dari sebagian besar kesalahan dan dosa.
Berbohong, mengupat, mencela, menghina, dan menghitung kekurangan orang lain merupakan bentuk kesalahan yang bersumber dari lisan.
Setiap sifat jelek tersebut dengan sendirinya akan memperluas kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Padahal salah satu tanda orang mukmin adalah tidak menyakiti orang lain baik dengan tangan atau lisan. Imam Sajjad as mengingatkan kita untuk bertutur kata dengan baik. Berbicara tentang hak-hak lisan manusia, Imam Sajjad as berkata,”Jangan biarkan sebuah ucapan keluar dari lisanmu yang hanya akan merugikan dan akal menjadi petunjuk atas untung dan ruginya ucapan tadi. Sebab, hiasan orang berakal adalah tutur katanya yang baik.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *