Mengurus Sertifikat Bisa Dilakukan Secara “Online”

By on Agustus 21, 2015

110000520150815-094530780x390

Dalam rangka mempermudah pengurusan sertifikat, Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) meluncurkan fasilitas “Desa Online”. Dengan pelayanan ini, mengurus sertifikat bisa dilakukan dalam jaringan atau daring (online).

“Kalau ‘online’ jadi lebih cepat. Masyarakat desa bisa mendapatkan pelayanan mengurus sertifikat, tidak harus mendatangi kantor BPN,” ujar Menteri ATR/BPN Ferry Mursyidan Baldan di Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (20/8/2015).

Dengan mengurus secara daring, Ferry berharap masyarakat bisa langsung mendapatkan sertifikat. Apalagi, jika didukung dengan pelayanan lain, yaitu pengecekan sertifikat dengan jangka waktu pelayanan, 7 menit, 17 menit, 70 menit atau jam dalam “Layanan Pertanahan 70-70”.

Pengurusan secara daring ini akan diterapkan di seluruh desa. Untuk tahap uji coba, mengurus sertifikat secara daring akan diberlakukan di Nusa Tenggara Barat, Bangka Belitung, dan perbatasan Kalimantan Barat.

“Diutamakan yang di perbatasan dan di kepulauan, misalnya di Bangka ini. Karena penduduknya sulit kalau harus menjangkau kanwil (kantor wilayah BPN) setempat,” sebut dia.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian ATR/BPN, Tri Suprijanto menjelaskan untuk mengurus sertifikat secara daring, warga bisa mengakses situs loket.bpn.go.id.

Setelah itu, warga akan diminta memasukkan data sesuai e-KTP dengan basis data di Kementerian Dalam Negeri. Kemudian, warga akan mendapatkan nama pengguna (username) dan kata sandi (password) untuk mengurus sertifikat lebih lanjut di situs tersebut.

Selain mempermudah, program “Desa Online” ini diharapkan memberi pelayanan pengurusan sertifikat secara transparan. Nantinya, akan ada pelatihan-pelatihan dan sosialisasi terkait pendaftaran sertifikat secara daring, yaitu saat pengisian formulir. Meski diklaim lebih cepat dan transparan, pelayanan ini masih memiliki kekurangan.

“Kelemahannya di jaringan. Kalau jaringannya lambat, koneksinya juga menghambat,” tukas Ferry.

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *