Manhaj Dakwah Habaib dalam Konteks Keindonesiaan

By on Desember 3, 2020

( Disarikan dari Webinar Sanad Media dengan narasumber Ustadz Husin Nabil Assegaf, dan Ustadz Dr. Haidar Bagir Alhabsyi)

02 Desember 2020

Bagaimanakah Manhaj Dakwah Habaib itu atau Thariqah Alawiyah itu?

Sebenarnya seperti juga jalan-jalan muslimin yang lainnya, thariqah ini tak lain bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Jadi patokan utamanya adalah kedua hal tersebut. Sehingga kalau ditanya bagaimanakah Thariqah Alawiyah itu, maka jawabnya adalah sebagaimana Al-Qur’an dan Rasulullah SAW mengajarkannya. Dimana ajaran Allah yang dibawa Rasulullah SAW itu intinya adalah rahmat, kasih sayang untuk semesta alam. Seperti dalam ayat dan tidak aku utus engkau (wahai Muhammad SAW) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta.

Nabi SAW adalah rahmat dan membawa rahmat. Cara berdakwahnya pun lemah lembut. Sebagaimana Allah SWT memberi tahu bagaimana cara nabi berdakwah: fa bima rahmatin minaLLahu linta lahum, maka dengan bersumber dari rahmat Allah lah, engkau (wahai muhammad SAW) berlaku lemah lembut. Ini pemberi tahuan dan pengajaran Allah pada kita tentang bagaimana cara dakwah nabi yang mestinya kita teladani. Yaitu lemah lembut dan bukan dengan kasar. Karena kalau kasar, maka niscaya mereka (obyek dakwah) akan berlari darimu.

Metode dan jalan hidup seperti inilah yang diajarkan Nabi SAW kepada para sahabat dan ahli bayt nya. Karena pada saat ini kita sedang membahas Thariqah Alawiyyah, maka kita akan lebih dalam membahas pada bagaimana yang diajarkan kepada keluarganya dan dicontohkan olehnya pada kita untuk kita teladani.

Jalan seperti itulah yang kita lihat pada ahli bayt nabi SAW. Misalnya bagaimana kita melihat pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Ketika beliau dipukul kepalanya dengan pedang oleh pembunuhnya, di saat2 itu beliau masih meminta pada pengikutnya untuk mengendurkan ikatan tali yang mengekang tangan orang yang membunuhnya. Lihatlah bagaimana ajaran kasih sayang diajarkan dan diteladankan pada kita oleh ahli bayt nabi.

Kita lihat juga bagaimana Sayyidina Hasan bin Ali ra, yang memilih berdamai dengan Muawiyyah dan menyerahkan kekhalifahan fisik pada orang yang kemudian mengubah kekhalifahan menjadi kerajaan. Sayyidina Hasan melakukan itu karena kasih sayang pada umat kakeknya dan beliau tidak menganggap kekhalifahan lahiriyah itu sebagai sesuatu yang penting. Melainkan yang penting adalah kekhalifahan batiniyah yang masih berada pada beliau.

Kita lihat juga bagaimana Sayyidina Husin bin Ali ra yang keluar dari Madinah agar yazid dan anak buahnya tidak mengotori kota madinah yang suci dengan perbuatan kejinya. Beliau keluar sampai dengan ketika sampai di karbala, beliau masih berusaha berdialog dengan orang2 yang akan membunuhnya itu, berjamaah sholat, dll. Dan bagaimana tangisan beliau pada saat-saat sebelum syahadah beliau, yang ketika adiknya Zainab bertanya tentang yang membuatnya sedih, maka beliau menjelaskan bahwa yang membuatnya sangat sedih adalah ketika membayangkan bagaimana nasib orang-orang yang akan memeranginya itu di hadapan Allah SWT. Lihat bagaimana keteladanan Nabi SAW mengalir pada figur-figur Ahli Bayt-nya ini. Seperti yang kita tahu sikap Nabi saw pada para penduduk Tha’if yang menyakiti beliau, tapi justru beliau lebih memikirkan bagaimana nasib orang-orang yang memusuhinya tsb. Berusaha agar Allah tidak menurunkan azab pada mereka, dan mendoakan kaum tersebut agar mendapat hidayah.

Jadi inti dari manhaj habaib atau ajaran Thariqah Alawiyah itu adalah ajaran rahmat, kasih sayang, disampaikan dengan lemah lembut, dan didasari dengan kecintaan pada semua makhluq. Jauh dari kebencian. Lemah lembut bukan berarti tidak boleh tegas. Ketegasan pada tempatnya diperlukan, tapi tidak boleh dengan cara kasar. Yaitu dengan melukai perasaan obyek dakwahnya, apalagi disampaikan di depan umum. Semuanya disampaikan murni demi Allah, bukan untuk kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, atau lainnya.

Kata “Thariqah” dalam Thariqah Alawiyyah juga menunjukkan bahwa ia merupakan ajaran tasawwuf. Dimana inti ajaran tasawwuf adalah cinta dan kasih sayang, ajaran Islam Muhammadi yang berasaskan cinta.

Bagaimana dengan konteks KeIndonesiaannya?

Dalam konteks keindonesiaan, sebenarnya hubungan Indonesia-Hadhramaut sudah terjalin bahkan sebelum masa walisongo. Bahkan telah terjadi pertukaran ulama diantara keduanya, seperti misalnya diindikasikan oleh adanya julukan “Al-Jawi” (juga almakassari, alfalimbani, dsb) pada beberapa tokoh ulama yang disebutkan dalam karya-karya tokoh ulama Thariqah Alawiyyah. Bahkan ada juga tokoh ulama Thariqah Alawiyyah yang berbaiat pada ulama nusantara pada masa itu. Ala kulli hal Thariqah Alawiyyah ini sudah berumur panjang hidup di bumi Nusantara ini. Ajaran ini sudah hidup di bumi Nusantara tak kurang dari 6-7 abad. Hanya saja karena ciri dari thariqah alawiyah ini adalah tidak memiliki ciri maka ia dapat melebur kemana-mana dan beradaptasi dengan ajaran mana saja yang sejalan, pada setiap zaman dan tempat. Seperti misalnya dicontohkan banyak orang-orang Indonesia yang terbiasa membaca ratib Haddad, wirdul lathif dsb tapi tidak tahu bahwa itu amaliyah tersebut sebenarnya bersumber dari Thariqah Alawiyyah ini. Juga amaliyah-amaliyah lain yang jika dirunut sebenarnya bersumber dari jalur manhaj para habaib ini. Wallahu a’lam.

Semoga kita termasuk sebagai penerus dan pewaris jalan yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Islam yang berlandaskan cinta, kasih sayang, welas asih kepada sesama ciptaan-ciptaan Nya. Aamiin YRA.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *