JARINGAN ULAMA NUSANTARA DENGAN AJARAN PARA HABAIB SEPANJANG SEJARAH (Sebuah Outline)

By on Desember 3, 2020

Oleh: Haidar Bagir
03 Desember 2020.

Pengaruh Habaib, yakni para tokoh dari keluarga Baniy ‘Alawi di Nusantara, tak pernah bisa dilepaskan dari manhaj tasawuf. Karena, ajaran Baniy’ Alawiy, spt sebutan Thariqah yg disematkan kpdnya, adalah ajaran tasawuf. Dan sebagai ajaran tasawuf, maka warisan yang ditinggalkannya adalah ajaran tentang cinta (mahabbah, Kepada Allah dan sesama makhluk-Nya), akhlak mulia, dan amal shaleh.

Tulisan ringkas ini akan menggali hubungan antara Islam di Nusantara dan ajaran para Habaib yang bahkan sudah bermula sejak abad 13, sebelum era Walisongo.

Pada abad 13 – 14 kita sudah mengenal Abdullah bin Mas’ud al-Jawi, yang menjadi Syaikh dari Imam  Abu Abdullah Muhammad bin As’ad al-Yafi’i (1298-1367), seorg ulama sufi terkemuka pd masanya – sebagaimana ditulis sendiri oleh sang faqih-sufi ini.

Kemudian datang era Wali Songo, yg adalah keturunan Bami ‘Alawiy lewat keturunan’ Ammul Faqih Alwi bin Muhammad Shaahib Mirbath yg bermigrasi ke India. Yakni mulai dari salah seorang putranya, Abdul Malik, yang belakangan keluarganya disebut al- ‘Azhamat Khan.

Lewat ulama Indonesia yang melancong ke Hadramaut di abad 17-18: termasuk Syaikh Yusuf, dll, maupun lewat interaksi ulama Nusantara dg para ulama Baniy Alawi di sekitar masa-masa ini dan sesudahnya. Habib Abdullah al- Haddad seperti beliau tulis sendiri dalam al-Nafa’is al-‘Uluwiyah – pernah membaca kitab Risalah al-Qurbah karya ibn Arabi bersama Syaikh Yusuf Makassari. Hb. Abdurrahman bin Abdillah Bilfaqih – murid utama Hb Abdullah Haddad, selain Hb. Ahmad bin Zayn Alhabsyi – diriwayatkan pernah minta dibay’at oleh tokoh Nusantara yg sama ini juga.

Pada kenyataannya, Habib Abdurrahman ini memang berbai’at dan mendapat ijazah dari banyak (30-an) tarikat, salah satunya (Khalwatiyah?) dari Syaikh Yusuf ini. Soal bay’at Habub Abdurrahman ni juga ditulis langsung oleh beliau dlm Majmu’ Rasa’il karyanya, sebanyak 2 jilid. 

Al-Raniri pun pernah belajar ke Hadramawt dan disebut-sebut sebagai pengikut tarekat al-‘Aidrusiyah. Gurunya ketika di India pun adalah para ulama dari kalangan Baniy Alawi, termasuk Abu Hafs ‘Umar bin Abdullah Ba Syaiban al-Tarimi al-Hadhrami yang juga dikenal sebagai Sayid Umar al-‘Aydrus (atau al-‘Aydrusi pengikut tariqa ‘Aidrusiyah?), yang berada dalam satu rantai perguruan dengan Ahmad al-Qusyasyi.

Al-Qusyasyi sendiri adalah murid beberapa ulama tarekat ‘Alawiyah lainnya termasuk, Sayid Ali al-Qab’i, Sayid Abi al-Ghayts Syajr, dan Sayid As’ad al-Balkhi. Pada gilirannya, al-Qusyasyi merupakan guru dari para ulama tarekat ‘Alawiyah yang, antara lain, menjadi guru-guru al-Raniri.

Abd al-Ra‘uf Sinkili, adalah murid Al-Qusyasyi, guru dari para ulama dari tarekat ‘Alawiyah, dan Ibrahim al-Kurani. Al-Kurani dikenal luas sebagai penulis It-haf al-Dzaki, syarah atas al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabiy karya Muhammad Fadhlullah al-Burhanfuri, yang dianggap bertanggung jawab atas penyebaran pikiran-pikiran ‘Irfan Ibn ‘Arabi di Nusantara. Isinya tentang paham martabat tujuh dalam wahdah al-wujud. Buku ini ditulisnya, seperti diungkapkan dalam pengantarnya, “atas permintaan orang2 dari Jawa”
Kepada Al-Kurani juga silsilah Syaikh Yusuf al-Makassari bersambung. Selain al-Kurani, di antara guru-guru al-Makassari ini termasuk Umar bin Abdullah Ba syaiban, yang juga guru al-Raniri, dan Sayid ‘Ali al-Zabidi atau Ali bin Abi Bakr dari tarekat ‘Alawiyah.

Abdul Shamad al-Palembani bahkan adalah seorang ‘alim Sayid keturunan Yaman. Ayahnya adalah Syaikh Sayid Abdul Jalil—ada yang mengatakannya bin Abdullah atau bin Abdurrahman—bin Syaikh Abdul Wahhab al-Mahdani. Pada gilirannya, Muhammad Arsyad al-Banjari adalah murid dari al-Palembani.

Lewat studi ulama-ulama Melayu ke Jazirah Arab yg bermazhab Syafi’i dan banyak dipengaruhi mazhab Habaib, yakni Thariqah ‘Alawiyah, termasuk Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asy’ari yang belajar kepada Mufti Syafi’i Mekkah, Syaikh Ahmad Zayni Dahlan. Yang disebut terakhir juga diketahui belajar dari Habib Husein bin Muhammad al-Habsyi di kota yang sama di Hijaz itu.

Lewat diaspora Hadhramaut ke Asia Timur Jauh, termasuk ke Indonesia di sekitar abad yang sama, yang melahirkan kelompok Habaib dan syaraif yang ada di Indonesia sampai masa sekarang.

Dan seperti melanjutkan para nenek-moyang mereka sebelumnya, tak sedikit para ulama Nusantara sepanjang 2 abad terakhir yang menjadi murid para tokoh utama keluarga ‘Alawi ini. Seorang Habib yang menonjol dalam hal ini adalah Habib Ali Alhabsyi Kwitang, Di antara banyak murid beliau di Betawi adalah K.H. Abdullah Syafi’i, K.H.Tohir Rohili, dam K.H. Muhammad Hadzami. Di generasi lebih belakangan, Habaib lain yang memiliki murid di lingkungan pendidikan keulamaan di Indonesia, seperti Habib Luthfi bin Yahya, dan lain-lain.

Akhirnya, selama sedikitnya dua dekade terakhir, ada fenomena baru para siswa di Indonesia belajar Islam ke Hadhramawt – di samping ke Makkah, di bawah Sayid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki. Di antara tokoh habaib yang menonjol dalam hal ini tentu adalah Habib Umar bin Hafizh, Habib Abubakar al- Masyhur, dll.

Pengaruh jaringan ulama atau calon ulama Nusantara dengan Hadhramaut jenis ini sudah mulai tampak sekarang melalui ulama Nusantara muda, spt K.H. Buya Yahya, dan sudah tampak tanda-tanda menguat di masa yang akan datang, ketika lebih banyak lulusan Hadhramaut belakangan kelak dikenal lebih luas atau menduduki posisi-posisi penting di lingkungan Nusantara.

Dari semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan apa yang kadang disebut sebagai Islam Nusantara – yang berlandaskan ajaran cinta, kedamaian, adab dan kesantunan – sesungguhnya mendapatkan banyak inspirasi dan pengaruh besar dari manhaj Habaib Hadhramaut yang biasa disebut sebagai Thariqah ‘Alawiyah ini.

Pengaruh tersebut, seperti terlihat di atas, sudah bermula sejak awal masuknya Islam ke Indonesia – 6 sampai 7 abad yang lalu, dan masih berperan besar sampai masa-masa sekarang ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *