Ekonomi Indonesia Bakal Hadapi Banyak Tantangan di 2017

By on Januari 15, 2017

ILustrasi Pertumbuhan ekonomi

Ekonomi Indonesia akan menghadapi banyak tantangan di 2017, terutama dari sisi eksternal. Selain soal terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), pemilihan umum (pemilu) di sejumlah negara‎ Eropa juga akan mempengaruhi perdagangan Indonesia.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra PG Talattov mengatakan,‎ pasca terpilihnya Trump, ekonomi AS diprediksi bakal banyak mengalami perubahan. Sayangnya, perubahan tersebut mengarah pada ekonomi AS yang lebih protektif.

“Pasca terpilihnya Trump. Dari sisi fiskal as sendiri cukup agresif, dan terjadi kecenderungan deglobalisasi dan pengaruh ke perdagangan Indonesia,” ujar dia dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Minggu (18/12/2016).

Hal lain yang bakal menjadi tantangan bagi ekonomi Indoneisa, lanjut Abra, keinginan Trump yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi AS di tahun depan dinilai akan membuat lebih banyak dana yang ditarik kembali ke Negara Adidaya tersebut. Hal ini akan menimbulkan potensi arus modal keluar yang lebih besar di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

“Capital outflow menuju AS. Ketika Trump akan mendongkrak ekonomi AS, salah satu cara yg paling mungkin adalah dengan penambahan utang. Dan pada akhirnya akan menarik dana negara berkembang keluar ke AS. Pada akhirnya yeild obligasi pemerintah Indonesia akan meningkat dan akan jadi beban tambahan untuk fiskal Indonesia,” jelas dia.

Selain AS, gejolak politik yang terjadi di negara-negara Eropa juga akan berdampak pada ekonomi Indonesia di tahun depan. ‎Setelah keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan hasil referendum Italia, pada tahun depan akan ada pemilu di dua negara yang menjadi mitra dagang Indonesia, yaitu Jerman dan Perancis. Hal ini juga berpotensi mengganggu perdagangan Indonesia di 2017.

“Stabilitas Uni Eropa ke depan. Pasca Brexit stabilitas rupiah mulai tergoncang. Referendum Italia, di Italia saja rakyatnya menolak pemerintahnya untuk melakukan reform fiskal. Dan ada pemilu di Jerman dan Perancis. Ada kelompok nasionalisme baru yang menghendaki masing-masing negara keluar dari Uni Eropa, akhirnya memengaruhi ekonomi global termasuk investasi dan perdagangan Indonesia,” tandas dia.

9 Tantangan Ekonomi Indonesia di 2017

Ekonomi Indonesia di 2017 masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Hal ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di tahun depan.

Pengamat Ekonomi Prasetijono Widjojo mengatakan‎, dari sisi internal, setidaknya Indonesia akan dihadapkan pada lima tantangan. Pertama, tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Di 2016, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 28 juta orang atau 10,86 persen dari jumlah penduduk.

“Terjadi penurunan, namun penurunannya melambat, dan jumlahnya masih tinggi,” ujar dia dalam acara Refleksi dan Pernyataan Akhir Tahun Alumni GMNI‎ di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Tantangan ekonomi Indoneisa kedua, kerentanan di mana penduduk Indonesia yang hidup di atas gari‎s kemiskinan masih rentan terhadap goncngan ekonomi. Ketiga, kesenjangan ditandai dengan tingkat rasio gini yang masih cukup tinggi yaitu di angka 0,39.

“Meski pun sudah sedikit menurun, tapi pertumbuhan yang condong ‎lebih memberikan manfaat kepada kelompok menengah ke atas,” kata dia.

Keempat, tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi yaitu sebesar 5,5 persen. Dan kelima, kondisi fiskal yang masih dihadapkan pada persoalan belum optimalnya penerimaan negara ‎dan belanja yang masih harus dipertajam.

“Defisit anggaran harus dijaga dan keseimbangan primer masih harus diperbaiki,” ungkap dia.

Sementara dari sisi eksternal, ekonomi Indonesia setidaknya akan dihadapkan dengan empat tantangan. Pertama adalah perlambatan ekonomi global. Kedua adalah masih berlanjutnya ketidakpastian di Eropa pasca Brexit.

Ketiga adalah perubahan politik di Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump yang diyakini akan berdampak luas. Terakhir atau keempat adalah mengenai harga komoditas. “Harga komoditas‎ yang masih belum pulih sepenuhnya,” tandas dia.

Sumber : liputan6

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *