DAKWAH DIGITAL SANG HABIB MUDA

By on Juni 2, 2019

“Kalau medsos dan YouTube diisi oleh mereka yang tidak mampu tapi mau, ini akan menjadi kecelakaan bagi umat”

Tutur kata dan nada bicaranya cenderung lembut. Tak lantang dan meledak-ledak. Senyum lebar selalu menghiasi wajah setiap menyelesaikan ucapannya. Habib Husein Ja’far Al Hadar mungkin salah satu habib yang berpenampilan beda dengan beberapa habib yang malang melintang berdakwah di depan publik.

Selain soal gaya bicara lembut, penampilannya juga amat santai. Tak ada jubah yang melekat di badannya, juga tanpa jenggot lebat menggantung di dagunya. “Ini salah satu penampilan saya yang paling formal,” ujar Habib Husein seraya mematut baju koko putihnya yang malam itu dipadukan dengan celana panjang coklat.

Di depan habib muda itu, ada sekumpulan musisi yang tergabung dalam Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) dan keluarganya tampak duduk siap-siap menyimak tausiah Habib Husein. Penyanyi papan atas Indonesia seperti Kikan Namara, eks vokalis band Cokelat, Candil, mantan penyanyi band rock Seurieus, ikut meriung di rumah joglo Bumi Apsari di bilangan Jakarta Selatan dalam acara Berandakustik Ramadan beberapa hari lalu itu. “Biasanya saya memakai kaos kalau pendengarnya santai,” ujar Habib Husein disambut tawa hadirin.

Habib Husein dikenal sebagai intelektual muda Islam. Selepas mondok di sebuah pesantren di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Habib Husein pindah ke Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dengan mengambil jurusan Akidah dan Filsafat Islam. Setelah lulus S-1, ia melanjutkan kuliahnya di tempat yang sama pada jurusan Tafsir Hadis.

Sejak masih duduk di bangku kuliah pemikirannya tentang keIslaman sudah menghiasi beragam media nasional. Kini Habib Husein tak hanya membagikan buah-buah pikirannya melalui tulisan. Selain rajin mengisi kajian-kajian untuk anak muda, setahun terakhir wajahnya kerap berseliweran di linimasa Youtube dan Instagram. Ia membuat kanal di Youtube dengan nama Jeda Nulis berisi kajian-kajian soal keislaman. Kanalnya itu kini memiliki lebih dari 50 ribu subscriber. Mereka ini lah ‘jemaah digital’ Habib Husein. Zaman memang sudah berubah. Menjangkau umat, tak cukup lagi hanya lewat mimbar-mimbar di masjid atau pengajian.

Habib yang juga penggila sejarah itu mencoba keluar dari zona nyaman bekerja di belakang layar. “Saya ini penulis dan terus terang bukan tipikal orang yang suka tampil,” katanya kepada detikX. Lalu mengapa ia berani menyibak layar itu dan maju ke depan panggung. “Faktor fenomena media sosial baik itu YouTube, Twitter, Facebook dipenuhi narasi-narasi negatif. Baik yang bernuansa agama maupun tidak,” katanya.

Lelaki yang lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 30 tahun yang lalu itu menyebut fenomena tersebut sebagai krisis yang semakin hari kian parah dan memprihatinkan. “Yang paling parah adalah narasi negatif yang dibungkus dengan agama. Hoax ini paling mengerikan karena kita tidak boleh dan bisa memverifikasi. Begitu kita mau verifikasi muncul tuduhan kafir karena mempertanyakan agama,” katanya. “Saya begah juga akhirnya dan merasa harus tampil keluar.”

“Mereka ingin masuk dalam Islam secara utuh dengan cara yang instan. Tidak mau nyantri, tidak mau belajar kitab’

Media sosial dipilihnya menjadi salah satu media dakwah bukan hanya untuk menghadirkan oase di tengah-tengah kepungan narasi negatif. Namun Habib Husein menyasar anak-anak muda yang “berkerumun” di medsos. “Mereka ingin keberagamaan yang instan. Tapi ini sebenarnya bukan hanya yang milenial. Semua generasi yang kemudian saat ini disebut generasi hijrah menghendaki keberislaman yang instan,” ujar Habib Husein. “Mereka ingin masuk dalam Islam secara utuh dengan cara yang instan. Tidak mau nyantri, tidak mau belajar kitab, tidak mau belajar bahasa Arab, tidak mau belajar ilmu-ilmu Islam.”

Gemar akan yang serba instan, kata Habib Husein, menjadikan keberislaman akan tipis. “Padahal Islam itu kan samudra yang sangat luas dan dalam,” katanya. Ia pun mengutip Sayyidina Ali yang menggambarkan menelaah Al Quran itu seperti mengupas bawang. “Begitu dibuka ruas pertama ada ruas kedua dan seterusnya. Artinya instan dalam ber-Islam pasti akan menjadi masalah. Maka satu-satunya cara yakni mengajak mereka untuk ber-Islam secara mendalam,” kata Habib Husein.

Karena itu anak-anak muda yang disebutnya generasi milenial ini juga memerlukan perhatian dari para ulama. “Kita tidak bisa hanya mengkritisi mereka, ‘Ngapain kalian habisin kuota atau waktu di medsos’. Justru kita harus datang kepada mereka untuk kasih narasi positif. Harus proaktif dan pakai pendekatan yang menarik versi mereka,” kata Habib Husein.

Untuk terlihat menarik di kalangan anak muda dibutuhkan kreativitas untuk membuat tampilan menjadi tidak terlihat monoton. Misalnya dengan menggunakan animasi untuk menampilkan data-datanya. “Saya sedang menyiapkan konten Youtube yang isinya tidak sekedar ngobrol,” kata Habib Husein. “Sehingga nanti orang kayak nonton film. Ada jokes dan komedi, ada musik. Sehinga jadi kesatuan yang utuh secara kreativitas. Termasuk mempertimbangkan fashion dan lokasi.”

Tak hanya soal tampilan yang penting. Isi konten, menurut Habib Husein, juga harus digarap  sangat serius. Anak-anak muda cenderung resisten pada konten yang isinya menggurui. Mereka lebih memilih diperlakukan sebagai kawan yang setara. “Ini yang diajarkan Nabi. Kalau diperhatikan Nabi itu tidak punya murid, adanya sahabat. Jadi relasi yang dibangun itu bukan atas bawah, tapi egaliter. Jadi kita bentuk egaliterian itu dalam bentuk kreativitas agar orang tidak merasa digurui,” kata Habib Husein.

Lewat akun Twitternya, @Husen_Jafar, Habib Husein kerap menyinggung problematika anak muda yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pernyataan seorang sahabat Rasul, Sayyidina Umar tentang pertanyaan kapan nikah. “’Jadilah orang berilmu sebelum menikah,’ kata Sayyidina Umar. Saya ini santri, masih bodoh. Jadi, kalian jangan lagi tanya kapan saya nikah. Saya pegang petuah Sayyidina Umar. #SikapJomblo”.

Membuat konten kreatif dengan isi bermutu yang lebih banyak, kata Habib Husein, dibutuhkan sebuah komunitas dan manajemen, Habib Husein merencanakan menggalang sejumlah ustaz muda untuk bergabung dalam komunitas dakwah. “Agar (dakwahnya) lebih masif dan terstruktur,” katanya. “Salah satu kelemahan dakwah ustaz moderat adalah tidak dikelola oleh manajemen dengan baik. Sehingga tampilan videonya kadang serampangan. Butuh sebuah manajemen yang mengurus semua itu.”

Beberapa ustaz moderat yang dikenalnya seringkali segan dengan umatnya. Misalnya soal honor transpor. Begitu juga keengganan para ustaz tersebut untuk tampil di depan generasi muda atau kaum urban. “Ini saya kritisi. Kita harus ambil panggung itu. Kalau tidak kita menzalimi umat. Umat yang seharusnya bisa mendapat konten yang baik tentang Islam,” ujar Habib Husein. “Makanya saya bilang, kalau saya harus jadi “badut” dengan pakaian kaos ya tidak masalah. Padahal saya bisa saja pakai sorban dan jubah. Bahkan saya mungkin lebih pantas pakai jubah tapi tidak saya lakukan salah satu pertimbangan untuk mendekatkan kepada generasi milenial.”

Nabi Muhammad sendiri, kata Habib Husein, melakukan apa saja dalam dakwahnya. Yang penting tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam. “Saya bayangkan Nabi memikirkan bagaimana metode pendekatan dan cara agar umat manusia masuk dalam Islam. Karena Nabi meyakini Islam itu jalan kebenaran dan keselamatan. Suksesnya dakwah Nabi ke Salman Al Farisi karena pendekatan rasional. Suksesnya pada Abu Dzar al-Ghifari karena pendekatan emosional atau hati. Jadi Nabi itu melakukan berbagi cara,” katanya. “Saya meneladani metode Nabi itu.”

Kalau mereka tidak punya ilmu agama yang cukup maka dakwah akan menjadi nafsu bagi dia. Sehingga dakwah dibuat untuk memperkaya diri

Habib Husein menyebut pentingnya ustaz moderat, cendekiawan muslim, ilmuwan muslim yang moderat harus mengambil panggung itu. Agar masyarakat bisa mendapatkan akses ke ajaran-ajaran yang berkualitas. “Kita harus mau menjadi populer dan mau menjadi kreatif. Kalau medsos dan YouTube diisi oleh mereka yang tidak mampu tapi mau. Ini akan menjadi kecelakaan bagi umat dan diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak punya ilmu agama yang cukup maka dakwah akan menjadi nafsu bagi dia. Sehingga dakwah dibuat untuk memperkaya diri, menyebarkan nilai politis, dan jadi kacau akhirnya.”

Bertahan di jalur dakwah nilai-nilai moderat membuat Habib Husein acap dicap ustaz liberal. Ia juga mendapat cap ustaz apolitis karena dianggap mendukung apatisme anak muda pada politik. “Sejak awal saya meluruskan niat dan tulus menjalani semua ini. Sehingga relatif tidak khawatir dengan label itu. Saya selalu berpikir bahwa kita sedang menolong agama Allah, maka pasti Allah akan selalu menolong,” katanya. “Waspada iya, tapi saya tidak terus terintimidasi sehingga dakwah saya tersendat. Kalau pun nanti ada tantangan, itu dianggap ujian bagi dakwah untuk meningkatkan derajat.”

Penulis dan dosen di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Kalis Mardiasih menilai Habib Husein mewakili wajah anak muda muslim yang merasa gerah dengan situasi keislaman yang semakin “kemrungsung” sehingga tak betah lagi untuk tidak ambil bagian. “Sebagai pelajar studi keislaman, ia merasa harus ikut mengambil tanggung jawab untuk mendistribusikan pengetahuannya lewat medium yang mudah diakses banyak orang, yakni teknologi,” ujar Kalis.

Sumber: Detik X

Redaktur/Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *