Benarkah Daya Beli Menurun?

By on Januari 24, 2018

Founder Rumah Perubahan Rhenald Kasali punya pandangan berbeda perihal kondisi perekonomian, terutama dalam tataran mikro. Benarkah saat ini mulai mengindikasikan adanya pelemahan daya beli konsumen?

Rhenald justru meragukannya. Menurutnya, yang terjadi sekarang adalah uang sedang berpindah (shifting) dari kalangan menengah ke atas ke ekonomi rakyat. “Dan para elit sekarang sedang sulit karena peran sebagai “middleman” mereka pudar akibat disruptive innovation, lalu meneriakkan “daya beli turun,” ujarnya.

Rhenald mengambil tiga contoh untuk memperkuat pendapatnya. Pertama, perusahaan logistik JNE. Menurutnya jaringan logistik JNE kini market sharen-ya sudah di atas PT Pos dan semua perusahaan e-commerce menjalin kerja sama. Kondisi ini memaksa JNE untuk meningkatkan pelayanan dimana dalam beberapa bulan terakhir terus melakukan penambahan tenaga kerja sampai dengan 500 orang.

“Tak banyak orang yang tahu bahwa konsumen dan pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak membeli beras dan minyak goreng via Tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar dan lain-lain. Juga tak banyak yang  tahu bahwa angkutan kargo udara dari Solo naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan. Juga dari kota-kota lainnya. Artinya usaha kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan,” paparnya.

Kedua, retailer. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) penjualan yang dicapai anggotanya pada semester 1 2017 ini turun 20%. Kondisi ini mengikuti pola angkutan taksi yang sudah turun sekitar 30-40% pada tahun lalu.

Apakah karena daya beli? Bukan, penyebabnya adalah shifting ke taxi online. Sama halnya retail dan hotel yang beralih dari konvensional ke online. “Artinya bukan daya beli drop, bukan juga karena keinginan membeli turun, melainkan terjadi shifting,” jelasnya.

Tiga, produsen besar fast moving consumer goods (FMCG). Rhenald menuturkan semua perusahaan pada sektor ini mengakui meraup kenaikan omzet 30-40%. Mulai tepung terigu milik Bogasari sampai dengan produk obat-obatan milik Kalbe Farma.

“Demand-nya masih naik pesat. Tetapi produsen seperti Gulaku mengaku drop karena kebijakan harga eceran tertinggi (HET) yang mulai dikontrol pemerintah,” katanya.

Sumber : Kontan

Benarkah Daya Beli Masyarakat Menurun? Rhenald Kasali Beri Penjelasan Gamblang

Isu penurunan daya beli masyarakat sedang menjadi pembahasan hangat. Banyak pengusaha terutama dari bisnis ritel yang mengeluh dan pejabat di Kabinet Kerja Jokowi pun

Bank Indonesia (BI) pun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2017 agak tertekan lantaran daya beli masyarakat yang menurun.

Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali rupanya punya pendapat berbeda.

Sementara itu, Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan penjualan yang dicapai anggota mereka pada semester 1 anjlok sebanyak 20 persen.

Ini, tambahnya, mulai mengikuti pola angkutan taksi yg sudah turun sekitar 30-40 persen tahun lalu.

“Apakah karena daya beli ? Bukan, penyebabnya adalah shifting (perpindahan) ke taxi online. Sama halnya retail dan hotel yg beralih dari konvensional ke online,” terangnya.

“Saya kok ragu daya beli turun. Kajian yang kami lakukan pada tataran mikro menunjukkan uang sedang berpindah dari kalangan menengah ke atas ke ekonomi rakyat. Dan para elit sekarang sedang sulit karena peran sebagai “middleman” mereka pudar akibat disruptive innovation, lalu meneriakkan ‘daya beli turun’,” katanya, Jumat (28/7/2017).

Lalu siapa yang pendapatannya turun dan mengapa turun?

Menurut Rhenald, yang turun adalah grosir-grosir besar yang biasa membayar kepada produsen mundur 45 hari sampai 3 bulan. Diantaranya adalah supermarket-supermarket besar yg biasa “ngerjai” UMKM dengan menunda pembayaran.

Kini, lanjutnya, dengan munculnya dunia online, UMKM bisa langsung menjual ke konsumen, dan supermarket besar kekurangan pasokan. Produsen besar juga menahan stoknya karena lebih mengutamakan membuka jalur distribusi baru.

Berkat Tol laut, kini para agen-agen penyalur Fast-moving consumer goods (FMCG) yg berada di Lombok, NTT, Maluku, Sulawesi dll bisa dapat barang langsung dari produsen tanpa melalui middleman di Jakarta, Bandung, Surabaya, dll.

Kini, katanya, penerimaan para midleman besar di Pulau Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket-supermarket besar yang terbiasa menjual kepada para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi karena para produsrn mulai menata jaringan distribusinya berkat infrastruktur yg bagus dan kedatangan kapal yang lebih rutin.

“Itulah yang mereka keluhkan dengan “daya beli turun”. Faktanya, pasar bergeser, pemerataan tengah terjadi walaupun belum sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera), namun “kekayaan” kelompok mapan di Pulau Jawa (khususnya para middleman) tengah tergerus,” tegasnya.

Sumber : Tribun Medan

ADVERTISEMENT

Kini, katanya, penerimaan para midleman besar di Pulau Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket-supermarket besar yang terbiasa menjual kepada para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi karena para produsrn mulai menata jaringan disttibusinya berkat infrastruktur yg bagus dan kedatangan kapal yang lebih rutin.

“Itulah yang mereka keluhkan dengan “daya beli turun”. Faktanya, pasar bergeser, pemerataan tengah terjadi walaupun belum sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera), namun “kekayaan” kelompok mapan di Pulau Jawa (khususnya para middleman) tengah tergerus,” tegasnya. (*)

ADVERTISEMENT

Rhenald mengajak kita menengok kondisi di JNE, jaringan logistik yang terus menambah pegawainya untuk melayani pengambilan dan pengiriman logistik. Penambahan SDM beberapa bulan terakhir menurutnya mencapai 500 orang.

Ia mengatakan, tak banyak orang yang tahu bahwa konsumen dan pedagang beras di Kalimantan kini lebih banyak membeli beras dan minyak goreng via Tokopedia dari Surabaya, Lombok, Makasar, dll. Juga tak banyak yang tahu bahwa angkutan kargo udara dari Solo naik pesat untuk pengiriman garmen dan barang-barang kerajinan.

“Artinya usaha-usaha kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan,” ujarnya.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan penjualan yang dicapai anggota mereka pada semester 1 anjlok sebanyak 20 persen.

Ini, tambahnya, mulai mengikuti pola angkutan taksi yg sudah turun sekitar 30-40 persen tahun lalu.

“Apakah karena daya beli? Bukan, penyebabnya adalah shifting (perpindahan) ke taxi online. Sama halnya retail dan hotel yg beralih dari konvensional ke online,” terangnya.

 

 

Rhenald Kasali: Shifting masih berlanjut, inovasi!

Secara sederhana banyak orang yang paham bahwa permintaan pasar adalah fungsi dari daya beli (power) dan keinginan membeli (appetite). Kalau soal daya beli, kita cukup bicara jumlah uang dan harga. Sedangkan keinginan membeli, dipengaruhi mood konsumen seperti berita-berita bagus atau buruk, persepsi terhadap hari esok, kejadian-kejadian yang membuat kita kehilangan appetite, retailer yang kurang promosi dan sebagainya. Maka meski uangnya ada, bisa saja seseorang menunda konsumsinya.

Bagaimana daya beli? Kalau harga-harga melambung naik, maka jelas jumlah yang bisa dibeli dengan uang yang sama berkurang. Lalu nilai penjualan yang diterima perusahaan-perusahaan pun bisa turun. Namun keuntungan yang diperoleh belum tentu jatuh.

Sebab menurut Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia, menentukan untung atau rugi bagi perusahaan adalah sebuah kecerdasan sendiri.  Ada strategi dan ada  pilihan, kecuali mereka salah urus, tak merespons bahkan menyangkal perubahan.

Tetapi pengusaha tahu, saat ini secara umum inflasi cukup rendah. Bahkan rakyatnya punya beragam pilihan yang luas. Lalu kita membaca hasil yang dicapai dunia usaha pada semester I 2017 ini walaupun tak sepenuhnya buruk, namun cukup beragam.

Banyak yang bagus, juga ada yang  kurang beruntung. Ini berbeda dengan kondisi 1998-2000 yang dilanda krisis secara luas. Jadi unsur pertama ini tak terpenuhi.

Kedua, jumlah uang yang dimiliki konsumen. Misalnya Anda di-PHK perusahaan. Kalau PHK terjadi secara nasional, maka otomatis daya beli masyarakat turun. Atau, kalau pengusaha menurunkan gaji misalnya. Kejadian ini pun tak banyak terdengar. Kita hanya mendengar  gerai 7 Eleven yang ditutup.

Pernah juga dikhawatirkan kalau subsidi-subsidi tertentu dicabut sehingga harga melambung. Atau bisa juga angkatan kerja baru sulit mendapat pekerjaan, investasi pada sektor tertentu turun, inovasi baru mengakibatkan lapangan kerja tertentu bisa saja terbatas, persaingan global dan sebagainya.

“Maka dampak inovasi pada setiap segmen tenaga kerja ini mutlak diperlukan untuk memperkuat perekonomian dan melakukan pemerataan,” ujar Rhenald.

Seharusnya semua itu bisa dihitung. Namun masalahnya semua berhubungan dengan asumsi yang dipegang peneliti dan kemampuan masing-masing dalam mensortir data. Sementara itu  gaya hidup masyarakat berubah begitu cepat dan kurang cepat dipetakan BPS.

Mixed Results

Jadi dengan data yang sangat umum, sampai saat ini, mungkin saja kesimpulannya belum bisa kita tarik. Namun perlahan-lahan data baru juga berdatangan.

Berikut adalah data keuangan pertumbuhan penjualan beberapa perusahaan publik semester I 2017 yang diambil dari IDX:  Kalbe Farma 5,3%, Mayora 1,2%, Astra 11%; Ace Hardware 18%, HMSampoerna: -1,6%, Merck 5%, Sido Muncul -6,8%, Gudang Garam 8,9%, Unilever 2,5%, Ultra Jaya 0,9%, Prodia 3,7%, Semen Indonesia 1,9%, Indofarma 2,1%; Tempo Scan -2%, AlfaMidi 18,3%, dan Hero Supermarket -3,9%.

Ini menjadi sulit membaca dampak daya beli secara nasional karena mixed result yang sekilas memang masih positif. Namun baiklah, anggap saja sebagian pelaku usaha lainnya belum mengumumkan prestasi yang dicapai.

Saya sendiri menemukan gejala-gejala menarik di tengah kegalauan sebagian pihak yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Juga ditemukan fakta adanya perusahaan yang  penjualannya turun namun keuntungannya naik. Hero misalnya (keuntungan sebelum pajaknya malah naik 341%). Sebaliknya Mayora yang penjualannya tumbuh hanya 1,2%, operating profitnya sudah minus 17%.

Apakah prestasi yang dicapai masing-masing perusahaan itu cerminan dari daya beli pasar pada segmen yang digeluti masing-masing pelaku usaha atau kualitas inovasi dan manajerialnya?

Ini tentu menjadi PR bagi para pelaku usaha, pemerintah dan peneliti agar tidak menimbulkan kebingungan.

Ini menjadi penting sebab bila eksekutif “salah membaca” dan beranggapan penurunan pendapatannya karena daya beli, maka ia akan memilih menunggu, bukan berinovasi atau memperbaiki business process-nya. Sebab mereka pikir, daya beli itu ada di luar kendalinya.

Pertanyaannya, andaikan benar itu masalah daya beli, apakah penjualannya kelak akan kembali lagi  setelah daya beli membaik?

Shifting Masih Terus Berlanjut

Maaf, saya perlu mengingatkan para eksekutif dan regulator agar lebih berhati-hati membaca sinyal-sinyal lembut perubahan yang terjadi kali ini.

Perubahan kali ini bersifat disruptif, bukan kontinum. Ia mengubah platform, bukan renovasi sesaat. Dan ia bisa merobohkan pelaku-pelaku lama (incumbent), seberapa pun kuatnya brand, reputasi atau penerapan ountinuous innovation.

Amati terus inovasi disruptif yang berpotensi menghancurkan lapangan pekerjaan kalau dikendalikan dari luar secara agresif.

Maka, selain aspek daya beli atau keinginan membeli yang perlu terus didalami itu kita masih akan mendengar nama-nama besar yang berpotensi bertumbangan walaupun saat ini masih menuai banyak keuntungan. Inovasi para pendatang baru yang masih kecil yang terkesan “membakar uang” jelas tak bisa diabaikan.

Harap Anda membacanya dengan penuh hati-hati. Sebab saat penjualannya turun besar-besaran dan harus dialihkan ke Microsoft, Nokia (2013)  tak berani menyalahkan daya beli. Walaupun pada saat yang sama, Kodak (2013) juga bangkrut.

Lalu tahun-tahun berikutnya (2016), penjualan hampir semua toko ritel di Amerika Serikat  juga ikut turun dan ratusan outlet toko milik Wallmart, Macy’s, Kohl’s, Sears ditutup di banyak lokasi. Padahal, di Amerika Serikat, Forrester dan eMarketer memperkirakan bisnis retail online  di AS pada akhir tahun ini baru mencapai sekitar US$ 440 miliar atau kurang dari 8% dari total penjualan ritel.

Namun, meski persentasenya kecil, secara empiris hal itu sudah terbukti cukup melumpuhkan peritel konvensional besar di Amerika Serikat. Mungkinkah itu juga yang tengah terjadi di sini? Ia bisa saja menghancurkan secara selektif.

Lawan dengan inovasi

Perhatikanlah, saat diserahkan kepada Microsoft, CEO Nokia Stephen Elop berkata, “Tak ada keputusan manajerial yang salah, tetapi kita tiba-tiba merugi, kehilangan.”

Lalu PM Finlandia Alexander Stubb menyatakan, penyebab rontoknya ekonomi negerinya ada pada Apple, yang mengakibatkan peringkat pinjaman negeri itu diturunkan Standard & Poor dari AAA ke AA+. “…..iPhone killed Nokia and the iPad killed the Finnish paper industry… “ Namun ia menyambutnya secara positif: “We’ll make a comeback,” lanjutnya.

Begitulah shifting terjadi. Bagi bangsa yang menghargai inovasi, ancaman dan gempuran tak dihadapi dengan tangisan, melainkan sikap produktif-inovatif.

Di lain pihak, shifting itu tak hanya terjadi dari dunia konvesional ke dunia online. Ia bisa terjadi dari satu pelaku ke pelaku lainnya. Waktu berjalan, ekonomi suatu bangsa berubah, teknologi berubah, generasi baru berdatangan dan gaya hidup ikut berubah.

Sama seperti Anda sebagai konsumen melakukan shifting dari membeli mobil bekas ke mobil baru, dari sepeda motor ke mobil LCGC, dari berobat di puskesmas ke rumah sakit, dari asuransi ke BPJS kesehatan (dan sebaliknya), dari rumah susun ke apartemen, dari beras ke mi instan, dari masak sendiri di rumah ke restoran, dari telepon kabel ke telepon genggam, dari tv berantena ke tv kabel, dan seterusnya.

Sekali lagi, pendapatan berubah, konsumsi berubah. Teknologi baru berdatangan memperluas pilihan. Gaya hidup mengubah banyak hal.

Oleh sebab itulah, penting bagi BPS, pemerintah dan para ekonom belajar kembali dan memotret habis perubahan gaya hidup masyarakat lebih sering lagi dan membangun tradisi inovasi.

Dan, karena kita hidup di negri kepulauan yang ekonominya beragam, sudah pasti potret ekonominya perlu dikelompokkan agar mudah dibandingkan. Rentang waktu 5 tahun untuk memotret gaya hidup  yang digeneralisasikan kota-desa dan pusat-daerah, sama sekali tak cukup. Jangan lupa kota-kota kecil telah berubah menjadi daerah urban yang padat.

Jadi shifting itu bukan semata-mata terjadi dari “konvensional” ke “online”. Konsumen bisa pindah dari pelanggan Rumah Sakit A ke B yang jaringannya lebih luas dan teknologinya up to date; dari sepeda motor buatan Jepang ke LCGC dan mobil-mobil murah buatan China; dari mainan anak-anak fisik (boneka dan mainan) ke fun games dan gym anak-anak; dari gedung perkantoran ke perumahan dan seterusnya.

Disruption terjadi dalam dua kategori. Pertama, pasar yang di bawah (low-end market) yang bisa menggerus pelaku usaha yang menbidik di atasnya. Atau yang kedua, benar-benar menciptakan pasar yang benar-benar baru.

Keduanya sama-sama berpotensi memindahkan rezeki yang bisa menghancurkan masa depan incumbents yang sudah bersusah payah membangun pasar dan menciptakan lapangan pekerjaan besar.

Sumber : Kontan

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *