Belajar Dari Sido Muncul

By on Mei 7, 2016

Sido Muncul

Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul
Perusahaan Harus Membawa Manfaat bagi Semua

JAKARTA – Seberapa banyakkah perusahaan di negeri ini yang memiliki visi memberi manfaat bagi masyarakat ketimbang mengejar keuntungan semata? Barangkali hanya sebagian kecil. Masih lebih banyak yang hanya mengejar keuntungan atau profit semata.

Dan di antara perusahaan-perusahaan yang memberi manfaat itu Sido Muncul- salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia- tampil sebagai benchmark atau standar di industri jamu.


Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul.

Lebih menarik lagi, bukan profit yang menjadi ukuran sukses melainkan seberapa banyak Sido Muncul memberi manfaat. Terbukti, berbagai penghargaan telah diterima sebagai wujud sumbangsih Sido Muncul bagi masyarakat dan lingkungan.
Agak sedikit aneh memang, jika Sido Muncul menetapkan visi demikian. Tidak jarang banyak yang mempertanyakan mengapa manajemen tidak membuat visi semisal menjadi pabrik jamu yang terbesar saja. Presiden Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat berpendapat visi tersebut sifatnya rasional saja.

”Saya punya keyakinan, kalau bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan, kami seperti memberi pagar kepada diri kami sendiri supaya kami tidak melenceng. Dan saya juga yakin kalau bermanfaat dan berguna bagi siapa saja maka Sido Muncul pasti untung,” ujar Irwan.

Visi tersebut oleh manajemen PT Sido Muncul diterapkan pertama kali pada tahun 1994. Bagi Sido Muncul visi tersebut menjadi semacam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara), yang memagari semua tindakan dan kinerja perusahaan.

Alasan Irwan memilih visi tersebut adalah karena memang visi tersebut dinilai paling cocok untuk situasi di Indonesia. Ia melihat dewasa ini setiap orang gampang melakukan kesalahan. Misalnya mencemari lingkungan, atau yang lebih berat lagi merugikan konsumen. Padahal konsumen kita dikenal sebagai konsumen yang bisanya cuma menerima saja dan seringkali menjadi korban tetapi tidak pernah menuntut.

Irwan mempercayai visi yang dikembangkan oleh Sido Muncul itu paling cocok. Tidak hanya bagi Sido Muncul, perusahaan-perusahaan di Indonesia kalau ingin maju harus menerapkan visi seperti yang dimiliki Sido Muncul dan harus memiliki komitmen membawa manfaat bagi semua.

PENGHARGAAN
Jika GBHN adalah sesuatu yang harus dipahami dan diimplementasikan oleh pemerintah dan birokrasi Indonesia, maka visi membawa manfaat bagi semua juga harus diimplementasikan oleh segenap jajaran manajemen dan internal PT Sido Muncul. Bagaimana wujudnya? Misalnya, jika suatu produk jamu tidak perlu melalui uji toksisitas, Sido Muncul melakukan uji tersebut. Jika pemerintah memberlakukan standar pabrik jamu untuk industri jamu, Sido Muncul standarnya adalah pabrik farmasi. Intinya, perusahaan harus mengedepankan dan melakukan yang terbaik bagi konsumen.

Langkah yang dilakukan manajemen Sido Muncul itu diakui telah membentuk kompetisi di industri jamu. Dan Irwan gembira telah melakukannya.”Yang saya lakukan ini adalah hanyalah sebuah kompetisi. Saya juga ingin Sido Muncul menjadi standar dan berharap kolega saya di perusahaan jamu lain melihat ini dari segi positifnya, kalau begitu kita jangan sampai kalah. Dengan begini akan bermanfaat dan memberi manfaat bagi masyarakat dan semua pihak,” kata Irwan lagi.

Dirinya menolak anggapan bahwa hal itu sulit dilakukan. Karena menurut hematnya, berkat visi tersebut akhirnya Sido Muncul mendapat hadiah lingkungan yaitu Kehati Award pada tahun 2000. Berbagai penghargaan diterima oleh perusahaan keluarga tersebut, antara lain penghargaan The Best Brand Award tahun 2000, lalu pada tahun 2002 mendapat predikat Perusahaan Teladan serta mendapat penghargaan ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award). Bagi Sido Muncul, semua penghargaan yang direngkuh itu bukti bahwa visi yang mereka terapkan berhasil memagari perusahaan.

Untuk industri jamu, Sido Muncul tergolong salah satu pemain besar. Pemain lainnya adalah Nyonya Meneer, Air Mancur, Jamu Jago, dan lain-lain. Sido Muncul tumbuh rata-rata sebesar 30-40 persen setiap tahunnya. Tahun ini perusahaan menargetkan penjualan senilai Rp 180-200 miliar. Jumlah ini diakui Irwan jauh lebih kecil dari salah satu perusahaan suplemen minuman yang mematok target hingga Rp 400 miliar.

Industri jamu nasional diperkirakan beromset sekitar Rp 2,5 triliun tetapi dengan jumlah pelaku yang luar biasa banyaknya, yakni sekitar 650 perusahaan. Bandingkan dengan industri farmasi yang hanya memiliki 250 pemain tetapi dengan omset Rp 16-18 triliun.

Meski demikian, mendapatkan Kehati Award, merebut predikat perusahaan teladan, merupakan penghargaan yang lebih dari apa pun bagi Irwan Hidayat dan seluruh karyawan PT Sido Muncul. Menurut dia kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau profit opportunity jauh lebih bernilai dari sekadar untung yang dinilai dengan uang. (profit money). Dan lebih menyedihkan lagi jika kehilangan kesempatan atau lost opportunity daripada kehilangan uang (lost money).

Penyakit Degeneratif
PT Sido Muncul dikenal sebagai perusahaan keluarga. Irwan Hidayat merupakan pewaris perusahaan bersama keempat adiknya. Namun oleh keluarganya dirinya diserahi tanggungjawab mengelola perusahaan dengan sebaik-baiknya.

PT Sido Muncul kini memiliki serangkaian produk dengan jumlah keseluruhan tidak kurang dari 150 produk yang dapat dibagi atas produk jamu generik dan branded (bermerek). Untuk jamu generik jumlahnya lebih dari 100 produk. Sedangkan yang branded di antaranya Kuku Bima, Tolak Angin, Kunyit Asam, Jamu Komplet, Jamu Instan, STMJ, Anak Sehat, dsb. Produk-produk keluaran Sido Muncul hadir di berbagai kota dan diedarkan oleh tidak kurang dari 60 distributor.

Tidak puas dengan apa yang ada saat ini, Irwan dan Sido Muncul bertekad untuk terus mengembangkan produk jamu yang dapat menyembuhkan penyakit degeneratif seperti darah tinggi, kencing manis, hipertensi, asam urat, kolesterol, dll. Direncanakan, pada saat ulang tahun perusahaan di bulan November mendatang, Sido Muncul akan menggelar seminar dalam rangka peluncuran (launching) semua produk hasil penelitian perusahaan.

Inovasi
Sebagai entitas bisnis yang terus ingin melangkah maju, Sido Muncul meletakkan basis performa perusahaan kepada inovasi. Bicara urut-urutannya, Irwan menerangkan bahwa yang pertama adalah komitmen. Kalau orang memiliki komitmen, dia akan menghasilkan konsentrasi dan kreativitas. Dan kalau kreatif dirinya akan inovatif. Dan jika inovatif akan menghasilkan perbaikan (improvement). Tak mengherankan manajemen menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk riset dan pengembangan.

Irwan mengaku bahwa Sido Muncul banyak menggantungkan hidup perusahaan terhadap penelitian. Tahun ini anggaran penelitian mencapai Rp 3 miliar. Cukup besar untuk ukuran industri jamu saat ini.
”Itu kami lakukan karena kami melihat itu untuk kepentingan konsumen. Bagaimana kami membuat konsumen percaya kepada kami melalui penelitian. Sekaligus juga membantu memberi kontribusi bagi masyarakat,” katanya menambahkan.

Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, Sido Muncul menjalin kemitraan dengan petani. Namun perusahaan tetap memprioritaskan standar bahan baku yang baik. Ditegaskan oleh Irwan, suplai bahan baku 99 persen berasal dari dalam negeri. Ia percaya bahwa alam Indonesia merupakan pabrik alam yang luar biasa kaya akan sumber daya alam.

Dalam menetapkan sasaran atau target perusahaan yang ia pimpin, Irwan tidak menetapkan sasaran yang muluk-muluk. Yang terpenting baginya, semua dilakukan dengan sungguh-sungguh dan yang dilakukan itu harus benar.
Jelas sekali ia tidak mau konyol. Misalnya penelitian harus dilakukan sejak sekarang. Sebab jika tidak, sepuluh tahun lagi orang lain melakukan penelitian dan Sido Muncul kalah. Itu sangat tidak ia inginkan.

Ia juga sadar visi perusahaan yakni memberi manfaat bagi masyarakat dan negara, dapat saja berubah pada suatu saat. Ia mengandaikan, jikalau hukum dan kepastian di Indonesia sudah jelas, barangkali pada saat itu Sido Muncul akan bersikap lebih rasional lagi dan menetapkan visi menjadi perusahaan jamu yang terbesar di dunia. Tetapi dengan kondisi di Indonesia saat ini, menjadi perusahaan yang membawa manfaat adalah visi yang cocok dan realistis.

”Political Will”
Salah satu keinginan Irwan dan terutama bagi Sido Muncul adalah meningkatkan citra atau image industri jamu. Ia sepenuhnya sadar bahwa industri jamu sering disebut industri tradisional. Citra di mata masyarakat jamu itu tidak ilmiah.

Sadar akan hal ini Sido Muncul tampil dengan promosi yang menarik. Salah satunya adalah menghadirkan pengamat ekonomi Renald Kasali dalam iklan mereka.

”Apa yang saya lakukan itu adalah bagian dari meningkatkan kepercayaan, bagaimaan membuat orang percaya pada produk jamu. Makanya bintangnya adalah Renald Kasali. Nah kalau Pak Renald mau tentunya orang berpikir, kok mau ya. Ternyata Pak Renald tidak salah pilih dengan membintangi salah satu perusahaan teladan,” ujarnya sambil tertawa.

Ia percaya industri jamu bisa dikembangkan lebih jauh. Sekarang jamu bukan bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Seharusnya ada kemauan politik atau political will untuk menjadikan pengobatan alternatif sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan kita. Ini berbeda dengan Cina yang memasukkan pengobatan alternatif sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan negara itu. Untuk memajukan industri jamu, Pemerintah dituntut untuk menyederhanakan prosedur seperti uji klinis yang selama ini terkesan berbelit-belit, memakan waktu lama dan mahal.

Irwan Hidayat sangat mempercayai bahwa usaha bisnis Sido Muncul di industri jamu akan berlangsung baik. Alasannya? ”Saya percaya apa saja yang membawa manfaat itu pasti langgeng. Kalau tidak membawa manfaat jangan harap bisa langgeng. Apalagi kalau hanya berpikir mengeruk keuntungan dan merugikan konsumen,” katanya dengan tegas.

Sumber: freedom.blogspot.co.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *