Banyak Penjara di Belanda Tutup karena Kekurangan Penjahat

By on Mei 29, 2016

This picture taken on March 2, 2015 shows prison staff and inmates going about their business at the Norgerhaven prison in Veenhuizen, The Netherlands. Dutch prisoners who currently enjoy countryside views and can cook their own food are suing the government over a deal for Norwegian convicts to take over their "luxury" cells. The agreement, signed by Dutch deputy justice minister Fred Teeven on March 2, 2015, is aimed at alleviating waiting times for convicted criminals in Norway, where prisons are almost filled to capacity. AFP PHOTO / ANP / CATRINUS VAN DER VEEN +++ NETHERLANDS OUT (Photo credit should read CATRINUS VAN DER VEEN/AFP/Getty Images)

Tingkat kriminalitas di Belanda tergolong sangat rendah. Saking sedikitnya kasus kejahatan, sampai-sampai sejumlah penjara di Negeri Kincir Angin itu ditutup. Pada tahun 2013 lalu, 19 penjara telah ditutup karena tidak memiliki cukup penjahat untuk mengisinya. Kemudian tahun ini, lima penjara dijadwalkan ditutup pada akhir musim panas.

Sebagaimana dikutip dari Tech Insider, Sabtu (21/5/2016), penutupan itu menyebabkan hampir 2.000 orang kehilangan pekerjaan. Hanya 700 posisi yang akan dipindah ke peran lain. Tren penutupan penjara Belanda mulai terjadi pada tahun 2004 ketika kriminalitas menurun.

Pada September tahun 2015 lalu, negara tersebut justru mengimpor 240 tahanan dari Norwegia agar dapat mempertahankan fasilitas penjara. Menteri Kehakiman Ard van der Steur mengatakan pada parlemen jika biaya pemeliharaan penjara tak penuh sangat tinggi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kriminalitas di Belanda sangat kecil di antaranya, fokus pada rehabilitasi dibanding hukuman dan sistem monitoring untuk memastikan mantan kriminal dapat masuk kembali ke dunia kerja.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008 menemukan bahwa sistem monitoring ini dapat mengurangi tingkat residivis sampai 50 persen.

Daripada membuang uang untuk memenjara orang, lebih baik para pelaku kriminal diberi kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat.

Dari 17 juta jumlah populasi Belanda, hanya 11.600 orang saja yang dipenjara. Itu artinya, tingkat penahanan di sana hanya 69 per 100.000 orang. Berkebalikan dengan itu, di mana 716 dari 100.000 orang di Amerika Serikat (AS) dipenjara. Ini menjadi yang tertinggi di dunia.

Tingginya angka kriminalitas itu disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap program rehabilitasi setelah residivis menyelesaikan hukumannya.

Tanpa jaringan pengaman untuk memberi mereka pilihan, banyak residivis yang kembali pada kebiasaan lama.

Sumber : Tribun Jogja

Penjara Kosong Melompong, Ribuan Sipir di Belanda Terancam “Nganggur”

Ilustrasi Penjara

AMSTERDAM, — Di saat negara lain disibukkan dengan meningkatnya angka kriminalitas, hal sebaliknya terjadi di Belanda.

Di negeri ini, angka kriminalitas terus menurun sehingga jumlah penjahat “tak memadai” untuk mengisi penjara-penjara di negeri itu.

Kementerian Kehakiman Belanda, Senin (21/3/2016), merilis data yang memperkirakan angka kejahatan di negeri itu turun 0,9 persen setiap tahun hingga lima tahun ke depan.

Alhasil, sepertiga dari 13.500 sel di seluruh Belanda tak terisi. Artinya, sedikitnya lima penjara akan benar-benar ditutup.

“Sepertiga dari sel-sel penjara akan kosong, dan kondisi itu akan terus bertambah,” kata Jaap Oosterveer, juru bicara Kementerian Kehakiman Belanda.

“Dari sudut pandang sosial, tentu saja, hal ini sangat bagus karena menunjukkan angka kejahatan yang rendah. Namun, jika Anda bekerja di penjara, ini bukan kabar bagus,” tambah Oosterveer.

Kondisi ini sangat dikhawatirkan Serikat Pegawai Penjara (FNV). Organisasi ini memperkirakan, 1.900 karyawan lembaga pemasyarakatan akan kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, sekitar 700 orang akan menjadi karyawan “mobile” karena mereka harus bekerja di beberapa penjara sekaligus.

Pemerintah Belanda sebenarnya tak tinggal diam untuk mencari solusi dari masalah ini. Belanda bahkan sudah “menyewakan” penjaranya untuk Belgia dan Norwegia.

Saat ini, sebanyak 300 narapidana asal Belgia ditahan di LP Tilberg. Sementara itu, 240 narapidana asal Norwegia ditampung di LP Nogerhaven, di kota Drenthe.

Direktur Lapas Belanda Karl Hillesland, kepada stasiun televisi RTV Drenthe, mengatakan, ada “antrean” kecil untuk masuk ke penjara Drenthe karena suksesnya penayangan sebuah film promosi di Norwegia.

Namun, langkah menyewakan penjara ini tidak menyelesaikan “masalah mendasar”, yaitu menurunnya kejahatan yang berujung pada penutupan penjara dan PHK.

Menurunnya jumlah narapidana disebabkan populasi karena warga Belanda yang menua sehingga hampir tidak mungkin melakukan kejahatan.

Selain itu, belakangan, sistem hukum Belanda lebih fokus untuk tidak mendakwa kejahatan yang tak menyebabkan korban, rehabilitasi, vonis pendek, program keterampilan, dan pembauran kembali dengan masyarakat.

Salah satu penjara paling keras di Belanda, Het Arresthuis, di Roermond, dekat perbatasan dengan Jerman, kini malah sudah berubah bentuk.

Bangunan yang dulu sangat ditakuti itu kini sudah diubah menjadi hotel mewah. Margje Spatjens, juru bicara hotel itu, mengatakan, jika ada penjara lain yang tutup, maka pihaknya sudah memiliki pengalaman untuk mengubahnya menjadi hotel.

“Reaksi dari para tamu pada umumnya sangat positif, mesti beberapa tamu merasa agak was-was,” ujar Margje.

Namun, seorang anggota parlemen, Nine Kooiman, menyebut, kosongnya penjara-penjara di Belanda disebabkan polisi malas menangkap para kriminal.

“Jika pemerintah benar-benar bekerja menangkap para penjahat, kita tidak akan menghadapi masalah ini,” ujar Kooiman.

Ketua FNV Frans Carbo punya teori lain. Menurut dia, institusi yang paling bertanggung jawab atas masalah ini adalah Kementerian Kehakiman.

“Kementerian melakukan apa pun untuk menurunkan angka kejahatan di Belanda, sebagian penyebabnya adalah populasi yang menua,” ujar Carbo.

“Kementerian sebenarnya sudah memangkas dan mereorganisasi seluruh rantai. Ini dimulai dengan gagalnya reorganisasi polisi yang menyebabkan kualitas mereka tak sebagus dulu, dengan persentase penyelesaian kasus yang rendah,” papar Carbo.

“Penjara ada di ujung rantai, dan langsung merasakan efek dengan kosongnya sel-sel penjara. Pada 2013, pemerintah memangkas anggaran yang menyebabkan penutupan 19 organisasi,” ujar Carbo.

Sumber : Kompas

Minim Kejahatan, Belanda Akan Tutup Penjara

Penjara Belanda 1

Den Haag – Belanda sedang menderita penyakit yang tidak biasa, yakni seluruh penjara bagi orang-orang jahat di negeri itu tidak ada penghuninya.

Kantor Kementerian Kehakiman Belanda dalam siaran pers kepada media, Senin, 21 Maret 2016, menyebutkan seluruh tingkat kejahatan akan turun 0,9 persen setiap tahun. “Angka tersebut diperkirakan bakal bertahan hingga 5 tahun ke depan.”

Sepertiga dari 13.500 penjara di Belanda saat ini dalam kondisi tak berpenghuni. Itu artinya, lima kerangkeng besi di sana segera ditutup. Meski demikian, hal itu membuat organisasi persatuan pekerja, FNC, khawatir terhadap nasib 1.900 sipir di penjara karena mereka kehilangan pekerjaan. Sedangkan 900 karyawan lainnya bisa dipindahkan ke tempat lain.

“Lebih dari sepertiga penjara di Belanda sudah tidak digunakan lagi dan diprediksi kondisi akan menjadi sesuatu yang buruk,” kata Jaap Oosterveer, juru bicara Kementerian Kehakiman.

Dia menerangkan, “Jelas dari perspektif sosial, menurunnya kejahatan adalah sesuatu yang sangat bagus, tapi jika Anda bekerja di penjara, situasi tersebut bukanlah berita bagus.”

Kondisi tersebut membuat pemerintah Belanda putar otak untuk memecahkan masalah itu. Negeri Kincir Angin itu akan menyewakan penjara kepada Belgia dan Norwegia untuk memenjarakan para penjahat. Sekitar 300 penjahat Belgia akan ditempatkan di Penjara Tilberg, Belanda.

Sedangkan Norwegia boleh memenjarakan 240 begundal ke penjara yang ada di Desa Veenhuizen, Drenthe. Hal itu sesuai dengan kesepakatan antara Belanda dan Norwegia yang diteken pada September 2015.

Sumber : Tempo

Minim Kejahatan, Belanda Akan Tutup 4.500 Penjara

Penjara Belanda 2

Semakin tinggi kesejahteraan suatu negara, maka angka kejahatan akan semakin rendah. Itulah yang terjadi di Belanda, di mana tingkat kejahatan sangat minim hingga memaksa pemerintah untuk menutup penjara.

Dilansir Uniqpost.com, Belanda akan menutup sekitar 4.500 penjara dari total 13.500 penjara yang tersedia. Hal itu dikarenakan angka kejahatan terus menurun setiap tahunnya.

Untuk mengefisiensikan penjara yang sudah tak dipakai lagi, pemerintah Belanda bahkan berniat menyewakan penjara-penjara tersebut. Beberapa bahkan sudah ditempati oleh pemerintah Norwegia dan Belgia.

Angka kejahatan di Belanda turun sebanyak 0,9 persen setiap tahunnya. Beberapa faktor seperti perekonomian yang maju mempengaruhi penurunan tingkat kejahatan di Negeri Kincir Angin ini.

Berbeda dengan di Indonesia di mana kejahatan terus meningkat hingga memaksa pemerintah untuk menambah sel-sel penjara baru.

Penjara Belanda Banyak yang Kosong

www.nefa_.co_.idwp-contentuploads201603cdn.tmpo_.codata20160324id_492270492270_620-cf4b42596cf2790d2baeec68fca02345f833199e-2101e02e02c8501a9394fcd6fa4140a1742cca25

Untuk kali pertama sejak 25 tahun terakhir, Belanda akan mengurangi jumlah ruangan penjara. Saat ini, terdapat 4.000 sel kosong. Artinya, satu dari lima sel penjara tidak berpenghuni. Sepanjang tahun silam, empat rumah penjara ditutup atau diperkecil. Penyebabnya adalah pelaku kejahatan berkurang, tapi terutama, makin banyaknya bentuk hukuman pengganti.

Padahal, pada era 90-an, kekurangan sel penjara sedemikian parah. Alhasil, ketika itu banyak terpidana pelanggaran hukum yang dianggap tidak begitu berat. Terkadang, mereka langsung boleh pulang ke rumah. Para penyelundup narkotik, misalnya. Batasan hukuman bagi penyelundup adalah sekitar satu kilogram heroin. Jadi, ketika itu, banyak penyelundup narkotik tidak ditahan, walaupun mereka diancam hukuman empat tahun penjara.

Dalam waktu singkat, banyak sel penjara tambahan dibangun. Pada tahun 2006, bagi 100.000 penduduk tersedia 109,1 sel penjara. Jumlah tersebut tidak mencakup daya muat, pusat penampungan bagi para pencari suaka. Saat itu jumlahnya empat kali lebih banyak dari angka pada pertengahan era 80-an. Sementara pada 2004, prinsip tabu menempatkan dua tahanan dalam satu sel, ditinggalkan. Ketika itu, Belanda menempati salah satu peringkat paling atas dalam urusan jumlah tahanan dibandingkan dengan jumlah penduduk.Menurut laporan internal Lembaga Pemasyarakatan Departemen Kehakiman Belanda, saat ini masalahnya justru sebaliknya: sel kosong. Sejak tahun 2005, jumlah terpidana berkurang 20 persen. Kendati demikian, menurut Fred Teeven, seorang anggota Parlemen dari partai konservatif VVD dan mantan jaksa, kebijakan menutup penjara adalah keliru.

Karena berkurangnya jumlah terpidana, menurut Teeven, bukan berarti Belanda kini benar-benar sudah jadi lebih aman. “Selama dua tahun terakhir ini, angka pencurian memang berkurang. Tapi bentuk kejahatan lain, misalnya penganiayaan atau perusakan, justru meningkat,” ucap Teeven.

Berkurangnya jumlah terpidana, imbuh Teeven, akibat perubahan hukum pada tahun 2001. Berdasarkan perubahan tersebut, hukuman pengganti untuk kali pertama dianggap setara dengan hukuman penjara. Menurut sistem reklasering Belanda, hukuman pengganti adalah pekerjaan berguna tanpa bayaran atau pelatihan dengan tujuan mengubah tabiat.

Hingga tahun 2001, hukuman pengganti hanya diberikan atas permintaan terpidana. Namun penerapannya hanya bagi terpidana pelanggaran ringan. Sekarang tidak ada batasan jenis kejahatan bagi hukuman pengganti. Hanya ada batasan, yaitu hukuman pengganti tidak boleh lebih dari 480 jam. Dan lama hukuman pengganti tidak boleh lebih dari setengah berat hukuman. Patokannya, 480 jam hukuman pengganti, dinilai setara dengan hukuman penjara delapan bulan.(ANS/Radio Netherland Worldwide)

Sumber : Liputan 6

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *