Anies-Sandi Menyapa Indonesia

By on Oktober 21, 2017

Oleh : Ahmad Bawazier

Senin 16 Oktober 2017 adalah hari bersejarah, hari  pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru, setelah melewati masa kampanye dan kegaduhan yang panjang dan melelahkan. Gegap  gempita warga berkumpul di Balaikota menandakan hari itu adalah hari kemenangan dan kebahagiaan bagi warga Ibukota.

Pidato pertama langsung menuai kontraversi  dan polemik tentang penyebutan kata pribumi dalam rangkaian pidato politik itu. Saya pun tergelitik untuk membaca secara cermat transkrip pidato sepanjang 22 menit itu. Karena membaca transkrip pidato berbeda dengan mendengarkan, dengan membaca secara utuh kita akan lebih bisa menangkap makna dan konteks yang sebenarnya.

Anies selama ini dikenal dengan citra diri yang positif sebagai inteletual yang berdedikasi, moderat dan toleran. Dengan citra diri itu Anies bekerja dan berkarya, kita pun tau Anies bukanlah orang yang gagap dalam menulis, sangat bisa dipastikan pidato itu adalah tulisan Anies sendiri ditambah lagi dengan kefasihan dalam berbicara dan merangkai kata-kata, maka pidato politik perdana itu menjadi sangat fenomenal, sangat hitam putih, sangat eksplisit, tajam menghujam dan sangat “kiri”.

Kiri yang dimaksud adalah ciri aktivis Islam pada umumnya. Konsisten memperjuangkan keadilan dan pemerataan. Kiri dalam arti membela yang lemah dan kaum tertindas. Seorang inteletual moderat dan toleran mustahil memiliki sikap rasis.

Anies memulai pidato itu dengan  menyebut nama Allah, mengucap syukur kehadirat Nya,  dan memuji Nabi-Nya. Kemudian dilanjutkan dengan menyapa warga Jakarta dengan ucapan salam.

Para pengkritik dan netizen telah gagal faham dalam memahami fenomena sosial politik dan keberpihakan kepada kaum lemah dengan berupaya menyerang dan membunuh karakter Anies dengan stigma RASIS. Opini sesat dibangun dan penggorengan isu secepat mungkin dilakukan agar bara menjadi api dan diharapkan akan sulit dipadamkan.

Pribumi dalam pengertian yang ideal bukan lagi bermakna setiap orang yang lahir atau penduduk asli suatu tanah dan negeri. Tetapi setiap orang yang bersedia dan bersumpah hidup dan mati demi bumi yang di injaknya dengan kesediaan sepenuh jiwa darimana pun ia berasal.

Diksi pribumi yang hanya disebut satu kali dan ditafsirkan secara sempit sehingga menafikan substansi dan pesan besar dalam pidato politik itu yaitu keberpihakan dan upaya untuk menghadirkan keadilan. Pidato politik yang sangat bagus, eksplisit, dan jauh dari kesan rasis.

Baiklah sebelum lebih jauh kita membedah bahwa tuduhan rasisme menjadi pesan yang terselip pada pidato politik itu maka ada baiknya kita lihat dulu banyaknya kata yang diulang dalam untaian indah pidato politik itu.

Kata Allah diulang sebanyak 7 kali

Kata Tuhan diulang sebanyak 4 kali

Kata keadilan diulang sebanyak 7 kali

Kata Betawi diulang sebanyak 3 kali

Kata Persatuan 6 kali

Kata Sosial diulang sebanyak 3 kali

Kata pribumi hanya disebut sekali

Kata Allah atau Tuhan terulang sebanyak 11 kali, kata keadilan sebanyak 7 kali, kata persatuan 6 kali dan kata pribumi hanya disebut satu kali. Saya melihat substansi dan suasana kebatinan pidato politik itu bukan semangat rasisme tetapi semangat egaliterian, semangat perlawanan kepada kapiitalisme, kekuasaan yang menindas, ketimpangan ekonomi, dan keberpihakan kepada mustadh’afin.

Anies Baswedan tampil menjadi icon baru dan simbol perlawanan kaum kiri, kaum sosialis Islam, kaum mustadh’afin yang digilas zaman, perlawanan terhadap para politisi yang terkooptasi oleh pemilik modal, mereka yang termarginalkan dengan potret kemiskinan struktual yang dialami rakyat Indonesia umumnya dan warga Ibukota khususnya yang bahkan karena sistem yang tak berpihak mereka tak mampu menolong dirinya sendiri.

Anies Baswedan tampil dengan semangat perlawanan dengan terapi kejut, mengingatkan mereka yang lalai, membangunkan mereka yang tertidur pulas, dan memberi harapan. Dihadapan Anies – Sandy ada dua kekuatan intoleransi yang akan terus mengganggu, pertama kelompok sekuler fanatik/Islamphobia dan kedua kelompok Islam radikal/takfiri.

Ada juga kelompok kecil utopis yang suka nyinyir, su’dzon, dan tuduhan tanpa data secara tak sadar menjadi intoleran tetapi tampil dengan jargon anti intoleransi dan merasa lebih pancasilais.

Tuduhan palsu, fitnah, dusta dan mengadu-domba akan terus mereka lakukan demi kepentingan kelompoknya. Kadang orang mudah menerima kebohongan, bila dia anggap itu akan menguntungkannya. Dan dia juga akan mudah menolak kebenaran, bila dia anggap itu akan merugikannya.

Hidup ini jarang sekali mengapresiasi hal-hal yang baik bahkan yang kita lakukan ribuan kali sekalipun.
Hidup ini justru akan selalu mengkritisi kesalahan kita, bahkan sekecil apapun yang kita perbuat.
Ketahuilah: “Orang lebih dikenal dari satu kesalahan yang ia perbuat, dibandingkan dengan seribu kebaikan yang ia lakukan”.

Perjuangan selanjutnya ke depan adalah untuk mewujudkan gagasan, kata dan karya yang selama ini telah mereka tekadkan. Kita ingin Anies-Sandi lakukan tiga-tiganya, membawa gagasan, membawa kata-kata dan membawa kerja. Jadikan sebagai satu rangkaian, gagasan, kata, kerja.

Semoga Anies-Sandi tetap konsisten dalam penegakkan keadilan dan keberpihakan yang nyata seperti tergambar dalam puisi Ali Syari’ati berikut :

Jika kau penuh dengan rasa kasih sayang, orang-orang akan menuduh bahwa ada niat-niat tersembunyi padamu.

Tapi tetaplah selalu penuh dengan kasih sayang
Jika kau berbuat baik, orang-orang akan menipumu. Tapi tetaplah untuk selalu baik.

Ketika kebaikanmu dilupakan orang, tetaplah berbuat kebajikan.

Berikanlah yang terbaik pada dunia ini, meskipun itu tak akan cukup.

Pada akhirnya akan kau lihat:
Semuanya adalah tentang kau dan Tuhanmu, bukan antara kau dan orang-orang itu.

 

Selamat datang pemimpin baru Jakarta, selamat datang pemimpin masa depan…..

 

 

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *