5 Karakter Virus Corona, Salah Satunya Bisa Mati dengan Alkohol

By on April 12, 2020

Jumlah pasien positif terjangkit virus corona atau Covid-19 di Indonesia bertambah 13 dari sebelumnya 6 orang. Total kini ada 19 pasien positif. Belasan pasien tersebut tak hanya diisolasi di rumah sakit di Jakarta.

Seperti diketahui di Jakarta sendiri pasien positif terjangkit virus corona diisolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dan RS Persahabatan. Sementara untuk di Bandung, umumnya pasien suspect dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Di daerah-daerah di Indonesia saat ini juga terus mengantisipasi penyebaran virus yang mematikan tersebut.

Sejumlah penelitian dilakukan untuk mencari tahu penyebab munculnya virus corona atau COVID-19 hingga cara menyembuhkannya. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui penyebaran dan cara mencegah agar tak tertular virus corona.

Mulai dari penggunaan masker hingga hand sanitizer dilakukan masyarakat agar tak tertular. Berikut sejumlah fakta soal penyebaran dan pencegahan virus corona menurut hasil penelitian:

Virus Corona Sensitif saat Cuaca Panas

Hasil penelitian dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China menyimpulkan virus corona boleh jadi menyukai suhu tertentu untuk bisa menyebar lebih cepat. Tim peneliti dari universitas itu melakukan kajian untuk menentukan bagaimana penyebaran virus corona bisa terpengaruh oleh pergantian musim dan temperatur.

“Virus itu sangat sensitif dengan suhu tinggi yang berarti di negara lebih panas bisa mencegah virus itu menyebar dan sebaliknya di negara lebih dingin bisa menyebar lebih cepat,” kata penelitian.

Dengan begitu, negara atau kawasan yang suhunya lebih rendah bisa menerapkan aturan yang lebih ketat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Peneliti lain seperti Hassan Zaraket, asisten direktur Pusat Penelitian Penyakit Menular di Universitas Amerika Beirut mengatakan ada kemungkinan suhu lebih hangat dan lembab akan membuat virus corona tidak stabil dan lebih sulit menyebar seperti halnya jenis patogen lain.

“Seiring suhu yang makin menghangat, stabilitas virus ini bisa menurun dan jika cuaca bisa membantu kita mengurangi penyebaran dan stabilitas lingkungan dari virus ini maka mungkin kita bisa memutus rantai penyebarannya,” katanya.

Penyebaran Virus Corona Tak Mengenal Suhu

Namun penelitian yang dilakukan Marc Lipsitch dari Sekolah Kesehatan Umum T.H Chan Harvard, menemukan penularan corona tetap terjadi dan bisa terus menyebar di berbagai kondisi suhu–dari mulai di provinsi dingin, kering hingga tropis di China seperti wilayah otonomi Guangzi Zhuang di sebelah selatan dan Singapura.

“Cuaca sendiri, seperti meningkatkan suhu dan kelembaban seiring musim semi datang beberapa bulan lagi di wilayah Bumi utara tidak secara langsung membuat kasus corona menurun jika tanpa penerapan aturan ketat dari otoritas kesehatan,” kata studi yang dipublikasikan Februari lalu itu. Penelitian itu juga masih menunggu evaluasi dari segi keilmuan oleh peneliti lain.

Perbedaan Flu Biasa dengan Corona

Banyak masyarakat yang masih sulit membedakan flu biasa dengan corona. Dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto mengungkapkan bahwa selesma, flu, maupun infeksi virus corona tetap memiliki perbedaan secara gejala infeksi.

Agus mengungkapkan bahwa selesma atau common cold umumnya disebabkan oleh virus seperti rhinovirus atau human coronavirus. Sementara flu, disebabkan oleh virus influenza.

“Biasanya flu lebih cepat. Kalau dia gejalanya cepat seperti demam, sakit kepala atau pinggang, bahkan nyeri-nyeri sendi, lemas, ini biasanya influenza,” kata Agus.

Sementara itu, common cold biasanya disertai dengan nyeri tenggorokan, meriang, terbatuk-batuk, serta hidung mampet bahkan di kedua bagiannya sehingga harus bernapas dari mulut.

“Ini modelnya rhinovirus atau coronavirus. Biasanya kalau influenza lebih ringan,” kata Agung menjelaskan.

Di sisi lain, untuk novel coronavirus, gejalanya hampir mirip dengan keduanya. Namun di sini, ada satu gejala khas yaitu sesak napas. “Nah, yang terbaru ini ada gejala disertai dengan diare. Kalau flu biasa jarang-jarang ada diare,” kata Agus. Yang pasti, gejala umum dari infeksi novel coronavirus adalah batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

“Dan pada kasus yang lebih berat, lama-lama akan terjadi progresivitas infeksi masuk ke paru, terjadilah pneumonia,” ujarnya.

Alkohol Mampu Membunuh Virus Corona

Salah satu cara untuk mencegah virus corona agar tak tertular adalah dengan mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer. Alkohol yang dikandung hand sanitizer mampu membunuh bakteri atau virus.

Alkohol menghancurkan bakteri dan virus, membelah sel bakteri menjadi beberapa bagian atau mengacaukan metabolisme sel, menurut sebuah penelitian tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Microbiology Review.

Sedikitnya 30 persen alkohol memiliki kemampuan membunuh patogen. Penelitian telah menunjukkan bahwa alkohol membunuh beragam bakteri dan virus ketika konsentrasinya melebihi 60 persen, dan akan bekerja lebih cepat ketika konsentrasinya meningkat. Tetapi bisa lebih efektif lagi jika kandungan alkohol dalam hand sanitizer mencapai 90 sampai 95 persen.

Pencegah Penyakit Amerika Serikat atau CDC juga menyarankan hal yang sama. Menurut CDC, menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60 persen akan lebih efektif dalam membunuh kuman.

Meski begitu, hand sanitizer belum cukup membasmi kuman di tangan. Lebih baik melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air. Menurut CDC cara terbaik yang bisa seseorang lakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan mengurangi risiko penyakit adalah dengan mencuci tangan secara teratur selama kurang lebih 15 detik.

Menggunakan Masker Tak Efektif Cegah Corona

Penggunaan masker semakin meningkat sejak virus corona menyebar. Sejumlah negara bahkan sampai kehabisan stok masker, karena terlalu banyak dibeli. Namun nyatanya, masker tak bisa mencegah penularan corona.

Pencegah Penyakit Amerika Serikat atau CDC mengatakan bahwa orang yang sehat tidak perlu menggunakan masker. Karena hal itu justru tidak melindungi mereka dari penyebaran virus corona.

Faktanya, Jenderal Bedah AS Dr. Jerome Adams memperingatkan masker malah dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak dipakai dengan benar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *